Tokoh

 

Oleh: Dedy Mardiansyah

Yang ada di dalam photo ini adalah sosok yang mengisi sebagian besar jiwa kami. Keduanya adalah alumni Pondok Pesantren Subulussalam Sriwangi, sebuah lembaga pendidikan tradisional yang berlatar budaya transmigran Jawa tertua dan bertahan hingga kini di Komering. Keduanya merintis pesantren dengan konsep yang nyaris sama. Juga dengan tipikal gerakan yang nyaris tak berbeda.

Kiai Affandi, sang senior, merintis dan mendirikan Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja, waktu itu masuk wilayah Kecamatan Buay Madang Kabupaten Ogan Komering Ulu, sebagai pesantren salafi yang berorientasi modern. Kiai Maliki, sang yunior, merintis dan mendirikan Pondok Pesantren Arrahmah Air Meles Atas, waktu itu masuk wilayah Kecamatan Curup Kabupaten Rejang Lebong, sebagai pesantren modern yang berbasis salafi. Photo ini adalah momentum keduanya bertemu saat tilik mendiang Ayahanda yang kala itu dirawat di klinik yang kedua kalinya, di Curup.

Baik Kiai Affandi di Nurul Huda maupun Kiai Maliki di Arrahmah lebih mengedepankan kapasitas kolektif daripada ketokohan personal. Sebab keduanya sadar bahwa kerukunan adalah modal utama pembangunan lingkungan, termasuk pesantren. Atau, sederhananya, keduanya lebih memilih untuk tidak kelihatan di depan, di mimbar atau di panggung. Sebuah kesadaran sejati seorang kiai dampar. Kesadaran paling kultural seorang pendidik atau pedagog.

Sebagai yang terlahir dari Ayah yang keluarga besar Persatuan Tarbiyah Islamiyah dan Ibu yang keluarga besar Persyarikatan Muhammadiyah, sahaya merasa amat bersyukur diarahkan oleh Allah Sang Maha Pemurah untuk dapat melangkahkan kaki sahaya untuk bertabarruk di Madrasah Tsanawiyah Arrahmah dan Madrasah Aliyah Nurul Huda yang tradisinya juga Salafi yaitu Islam yang Sunni Syafi’i. Dimana kesadaran sahaya akan keluhuran tradisi organisasi Jam’iyah Nahdlatul Ulama kemudian juga dapat leluasa tumbuh dan berkembang.

Kesadaran dimana bumi dipijak di situ pula langit dijunjung menjadi relevan sebagai kesadaran besar Salafi Sunni Syafi’i. Dimana alam semesta yang terkembang begitu luasnya menjadi guru. Dimana adat bersendi syarak dan syarak bersendi kitab Allah menjadi laku. Dimana umat Islam menjadi lebih cakap memimpin peradaban secara mufakat dari beragam eksistensi umat lainnya di dunia. Allah, betapa luhurnya anugerah-Mu yang berupa Nusantara dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Allah mohon tambah barkah atas kami semua.. Teruntuk jiwa dan raga Beliau berdua, Al Fatihah…

❤️❤️❤️❤️🙏

 

Artikel ini pernah diterbitkan oleh akun Facebook Dedy Mardiansyah pada 14 September 2020.