Prospek Kajian Komering (Catatan Buku Negeri Para Phuyang Bagian V)

Cover Buku Negeri Para Phuyang Himawan Bastari

Oleh : Dedy Mardiansyah & Mardiyah Hayati*

Hemat Kami, baik di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Nurul Huda (Unuha) maupun di Pusat Kajian Komering & Ecotechnopreneurship (PKKE) Unuha, bahwa dalam literasi sastra tematik Komering model NPP ini terdapat data sejarah.

Hal itu bisa menjadi rangkaian pernak-pernik pendekatan yang memang mungkin untuk dikembangkan. Sebagai pilihan pendekatan kajian Komering. Tapi tentu bukan untuk diperdebatkan. Terkecuali ketika memang sudah tematik sejarah.

Berdasarkan pengalaman, jikalau fokus tematik sejarah Komering yang diketengahkan, Kita akan terkuras energi hanya pada identitas subyek lokus sejarah. Mengingat masih minimnya konsentrasi penulisan di bidang sejarah peradaban Komering.

Maka dari itu Unuha baik lewat PBSI FIP-nya maupun PKKE-nya kemudian lebih memilih mengembangkan model pendekatan literasi sastra dalam studi Komeringnya.

Sebab, akan lebih mudah menguraikan peradaban Komering itu sendiri lengkap dengan atribut kebudayaan miliknya. Meskipun, secara santai tapi pasti pula, narasi yang muncul juga akan menyediakan data sejarah yang dapat secara renyah disusun dan diurai.

Yang paling strategis, ini merupakan langkah nyata menguatkan kehadiran subyek Komering dalam literasi khazanah keluhuran peradabannya. Plus peradaban Sriwijaya, tentunya.

Iustrasi yang ada di NPP menurut penulisnya memang disisipkan sebagai penguat cerita. Namun, apakah ilustrasi tersebut mewakili gambaran para phuyang, belum dapat dipastikan jawabnya.

Ilustrasi para phuyang Komering model NPP ini juga akan semakin cetar kalau divisualisasikan lagi secara teater. Apalagi dengan persiapan nan matang. Juga dengan dijadikan strategi penguatan literasi Komering secara teater yang berkunjung dari sekolah ke sekolah.

Ke depan, penulis NPP berharap bahwa ilustrasi phuyang dalam NPP tersebut akan bisa berbicara dan akan menceritakan siapa beliau para phuyang Komering itu sebenarnya. Dan Unuha, lewat PBSI maupun PKKE-nya, tentu layak pula berharap dapat membantu wujudnya cita-cita NPP sebagai sebuah bentuk literasi digital untuk milenial Komering.

Selain itu NPP menyinggung pula praktek pemindahan ibu kota bagi induk peradaban Sriwijaya ini. Ya, Skala Brakh, kerajaan pegunungan yang merupakan induk peradaban Sriwijaya yang berbasis di Sumatera Bagian Selatan ini.

Sebelum memigrasi rakyatnya (wangsa Tumi) ke muara sungai Komering dengan pimpinan 7 punggawanya, pernah memindahkan ibukotanya dari Kenali ke Bunuk Tenuar. Kinali diterangkan sebagai ibukota Skala Brakh sebelum Abad 7 Masehi. Sementara Bunuk Tenuar adalah ibukota sesudahnya.

Menarik pula, tersebut di NPP seekor burung Kapodang raksasa. Burung Kapodang identik juga dengan Kalimantan. Ikat kepala yang dipakai pria Komering secara kasat mata, menurut Penulis NPP, memiliki kemiripan dengan kepala burung Kapodang.

Filosofi yang identik juga dengan Melayu Kalimantan ini memang sengaja dimasukkan Penulis ke dalam narasi NPP. Nah, apakah narasi pemindahan ibukota wangsa Tumi dan burung Kapodang ini juga afirmasi bagi pemindahan ibukota Negara ke Kalimantan yaitu Ibu Kota Nusantara (IKN)?

Yang jelas, buku NPP ini telah kami terima 4 tahun lalu, langsung dari penulisnya. Persis setelah terbit pada tahun 2019 itu, di bulan ini, Agustus. Bulan Dirgahayunya Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang Kita cintai ini.

Mengulasnya kembali tentu cukup relevan sebagai ikhtiar Kita memperingati Kemerdekaan RI. Sebagai bangsa yang merdeka dengan perjuangan berat penuh tirakat para pahlawan leluhurnya, tentu butuh perjuangan mempertahankannya yang butuh tirakat pula.

Menziarahi Sriwijaya dengan perspektif kebudayaan Islam Nusantaranya Nahdhlatul Ulama tentu layak pula dikembangkan oleh Pondok Pesantren Nurul Huda (PPNH) Sukaraja melalui Unuhanya. Dengan pendekatan literasi Komering tentunya. Wallahu A’lam.

Dedy Mardiansyah adalah Alumni dan Dosen Unuha. Pendiri Pusat Kajian Komering Unuha ini pernah menjadi Sekum MUI OKUT, Wakil Ketua GP Ansor OKUT dan Ketua KNPI OKUT. Selain Ketua IKANUHA, ia kini juga Wakil Ketua Yayasan PPNH Sukaraja dan Wakil Katib PCNU OKU Timur. Mardiyah Hayati adalah juga Alumni dan Dosen Unuha. Selain sebagai Pembina Asrama Putri Al Umami PPNH Sukaraja dan Pengelola Jurnal Mahasiswa PBSI FIP Unuha juga Wakil Bendahara Yayasan PPNH Sukaraja.