Oleh: Dedy Mardiansyah*
Hal yang paling sering ditangkap diri ini dari Abah adalah pesan agar tak pernah lelah untuk “nyeranteni wong akeh”. Meskipun karena itu, terkadang atau bahkan sering, kita harus mengorbankan perasaan.
Apalagi berkaitan dengan kedudukan atau hubungan. Ego sektoral atawa temporal alias situasional bin kondisional sering menggoda untuk berontak. Menjadi bumbu bagi tumbuhnya dendam. Berkembang menuntut pembalasan.
Seperti visualisasi klip lagu LATHI yang viral tahun kemarin. Yang memperlihatkan perubahan pada diri seseorang yang tadinya manis lalu menjadi iblis. Gegara hubungan yang tak sehat. Gegara hubungan yang bermasalah. Hubungan yang beracun. “Toxic relationship”, istilahnya.
Tapi, pemberontakan, apapun alasannya, bukanlah penyelesaian. Apalagi berdalih pembalasan dendam. Alih-alih menuntaskan persoalan, ia justru jadi terminal berikutnya bagi lakunya peradaban yang kesetanan. Artinya, yang tepuk tangan para setan. Mereka yang kegirangan. Sebab dendam tak berkesudahan.
Makanya, Abah senantiasa pula mengingatkan agar tidak mengikuti emosi (zuhud). Agar senantiasa menyadari batas diri (wirai). Agar “mikul dhuwur mendhem jeru”, seperti tulisane Ade Irma Styowati . Agar dapat memelihara kerukunan (ulfah) dan menghindari perpecahan (tafriqoh).
Agar dinamis dan harmonis hidup dan kehidupan. Baik dalam urusan yang berhubungan dengan apapun juga. Urusan politik maupun lainnya. Apalagi dalam urusan agama.
Itulah resep kenapa raya Indonesia ini tercetar. Kawasan paling seksi yang berada di belahan dunia dengan negara-negara berpenduduk terbanyak. Dekat China dan India. Selain Indonesia sendiri.
Lihatlah raya Indonesia kita. Ia masih saja menjadi gadis manis. Menjadi kampung yang damai. Darussalam. Padahal, penduduknya paling beragam. Berkat Pancasila dan pandahan hidup luhur didikan para pendahulu. Atas restu Allah tentunya.
Sepertinya, itulah resep awet muda Abah yang kini sudah berusia 72 tahun. Itulah pula, sepertinya, resep Nurul Huda. Yang Allah kasih tumbuh berkembang lewat tangan Abah, kini telah berusia 42 tahun.
Meskipun diri ini masih banyak koplaknya. Tapi, makin kesini makin diajak sadar. Bahwa sabar itu kunci kelenturan hidup. Allahumma sehat dan afiat kita semua keluarga raya Indonesia tercetarrr…🌷
Penulis adalah Ketua Ikatan Alumni Pondok Pesantren Nurul (IKANUHA) Sukaraja. Dan saat ini diberi amanah atau tanggung jawab sebagai Ketua Bidang Pendidikan Yayasan PPNH Sukaraja, Buay Madang, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan, Indonesia.
Artikel ini pernah diterbitkan oleh akun Facebook Dedy Mardiansyah pada 04 Juni 2021.


