Panen Raya Tak Berbahagia bagi Petani Warga Belitang, Harga Gabah Turun Tajam

Sahabat Rakyat Komering.Com – Warga Belitang, Sumatera Selatan – Musim panen raya seharusnya menjadi momen yang dinantikan oleh para petani di desa Bumi Arum BK 9. Namun, kenyataannya justru menjadi masa-masa yang penuh kekhawatiran dan kesedihan bagi mereka. Harga gabah yang anjlok drastis telah membuat para petani di desa ini harus menerima kenyataan pahit, bahwa hasil panen melimpah yang mereka peroleh tidak sebanding dengan pendapatan yang mereka dapatkan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Sutikno, salah seorang petani di di desa Bumi Arum BK 9 Belitang, harga gabah saat ini Sabtu 20 April 2024 hanya berkisar Rp 3.900 – Rp 4.000 per kilogram. Padahal, pada musim panen sebelumnya, harga gabah bisa mencapai Rp 5.000 – Rp 6.000 per kilogram. Terlebih lagi dibulan Januari 2024 kemarin harga gabah mencapai Rp. 7.300/kg. “Perbedaan harga yang sangat signifikan ini tentu saja membuat kami para petani merasa sangat dirugikan,” ujarnya dengan nada prihatin.
Kondisi ini semakin diperparah dengan tingginya biaya produksi yang harus dikeluarkan oleh para petani. Mulai dari harga pupuk, obat-obatan, hingga upah tenaga kerja yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Sementara, harga jual gabah yang rendah tidak sebanding dengan modal yang telah mereka keluarkan.

“Kami sudah bekerja keras selama berbulan-bulan, mulai dari mengolah lahan, menanam, merawat, hingga memanen. Tapi, hasilnya tidak sesuai dengan pengorbanan yang kami berikan,” keluh Pak Sutikno.
Permasalahan ini tidak hanya dihadapi oleh Pak Sutikno, tetapi juga dialami oleh petani-petani lain di daerah Belitang. Mereka merasa sangat kecewa dan putus asa dengan situasi ini. Banyak di antara mereka yang terpaksa harus menjual hasil panen mereka dengan harga rendah seadanya, demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari serta persiapan modal untuk menanam padi.
Menurut Kepala desa Bumi Arum BK 9, Bapak Eko, penurunan harga gabah ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah melimpahnya pasokan gabah di pasar, serta adanya persaingan harga yang ketat dari daerah lain. Selain itu, kebijakan pemerintah terkait harga pembelian gabah petani juga dinilai belum optimal dalam melindungi kesejahteraan para petani.
“Kami sudah menyampaikan keluhan para petani kepada pemerintah daerah, namun hingga saat ini belum ada solusi yang konkret untuk mengatasi permasalahan ini. Kami berharap ada intervensi dari pemerintah pusat maupun daerah untuk membantu meningkatkan harga gabah dan melindungi kesejahteraan petani,” ujar Bapak Eko.
Situasi ini tentu saja menimbulkan keprihatinan mendalam bagi masyarakat di desa Bumi Arum BK 9. Mereka berharap ada solusi segera yang dapat mengatasi permasalahan ini, sehingga para petani tidak lagi harus menderita kerugian akibat harga gabah yang terus menurun. Desti Arianti.