Pentingnya Kedaulatan Sistem (Catatan untuk Konfercab PMII OKU Timur)

Oleh : Yandi, S.Pd.*

Konferensi Cabang (Konfercab) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten OKU Timur, rencananya, berlangsung sebentar lagi. Ya, forum permusyawaratan tertinggi organisasi mahasiswa Nahdlatul Ulama (NU) ini agendanya bakal dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 22 Mei ini. Sebagai bagian dari kepedulian kader, rasanya sangat pas melakukan evaluasi terhadap kepengurusan yang akan demisioner. Tentu dalam konteksnya sebagai penyediaan bahan pertimbangan atau modal bagi kebaikan kepengurusan yang akan datang. Tentu pula dengan menulis hal relevan dengan prinsip-prinsip pokok kepengurusan organisasi PMII.

Sebagaimana kita ketahui bahwa untuk menjalankan sebuah roda organisasi tentu yang pertama perlu adanya visi dan misi. Dari visi dan misi inilah berkembang apa yang kemudian menjadi program kerja yang tentu saja perlu disesuaikan dengan periodesasi kepengurusan. Dari program kerja itulah nanti turun berbagai kegiatan baik yang berupa kegiatan pokok atau utama maupun kegiatan pendukung. Tentu pula disesuaikan dengan bidang dan sub bidang kerja masing-masing struktur kepengurusan organisasi tersebut.

Dalam PMII, kerja organisasi terbagi menjadi tiga bidang. Bidang I yaitu bidang internal yang bertugas memimpin biro-biro yang mengurus persoalan internal organisasi PMII. Bidang II yaitu bidang eksternal yang bertugas memimpin biro-biro yang mengurus persoalan eksternal organisasi PMII. Bidang III yaitu bidang keagamaan yang bertugas memimpin biro-biro yang mengurus persoalan keagamaan organisasi PMII. Bidang-bidang ini diurus oleh Ketua, Sekretaris dan Bendahara masing-masing yang merupakan bagian dari komponen Badan Pengurus Harian (BPH).

BPH dipimpin oleh Ketua yang merupakan mandataris pilihan forum permusyararatan tertinggi organisasi PMII di masing-masing jenjang kepengurusan. Dalam mengurus BPH secara teknis, Ketua dibantu oleh Sekretaris dan Bendaharanya. Sementara dalam mengurus organisasi secara keseluruhan, Ketua dibantu oleh Ketua Bidang masing-masing. Adapun personalia yang masuk di dalam jajaran BPH ini kapasitasnya merupakan kader PMII senior di jenjang kepengurusan tersebut. Sementara personalia kader juniornya mengisi jajaran kepengurusan di masing-masing biro. Jika BPH dengan bidang-bidangnya itu merupakan jajaran pengurus strategis organisasi PMII, maka biro-biro adalah jajaran pengurus teknis organisasi PMII. Merekalah yang menjadi eksekutor kegiatan demi kegiatan yang sudah diprogramkan lewat masing-masing bidang di dalam PMII.

Visi dan misi kepengurusan yang berasal dari Ketua BPH terpilih di masing-masing jenjang hirarki organisasi PMII didistribusikan melalui rapat kerja organisasi kepada masing-masing bidang dalam bentuk program kerja. Dari program kerja bidang kemudian diterjemahkan menjadi rangkaian kegiatan di masing-masing biro. Dengan alur kerja organisasi ini, dapat dikonfirmasi organisasi akan memiliki arah dan tujuan kerja yang jelas. Di samping itu, sebagai pengurus yang baru tentu butuh modal sebelum melangkah. Untuk mendapatkan modal tersebut, kepengurusan yang baru juga membutuhkan pendampingan dari kepengurusan demisioner. Sebab mereka telah lebih dahulu memahami persoalan-persoalan yang ada karena sudah mengalaminya. Mereka pun, pengurus demisioner, harus mendampingi kepengurusan yang baru sebagai bagian dari tanggung jawabnya dan proses kaderisasi kepemimpinan organisasi.

Selain itu kepengurusan yang baru juga harus menjalin bahkan wajib berkonsultasi kepada para senior yang diamanahi untuk mendampingi mereka dalam mengurus organisasi. Dalam hal PMII, majelis pembina merupakan komponen ini. Majelis ini menjadi rujukan untuk menjalankan roda penggerak organisasi PMII yang bertugas memberikan pendampingan dan arahan sebagai pijakan untuk pengurus melangkah. Tentu saja agar pengurus tidak sampai keluar dari koridor yang seharusnya di dalam organisasi. Apalagi sampai mencederai nilai-nilai organisasi yang berlaku di PMII.

Selain itu, agar organisasi tersebut tetap hidup, juga dibutuhkan proses regenerasi. Untuk mendapatkan regenerasi yang berkualitas maka pengurus PMII harus benar-benar mengurus para warga agar menjadi kader-kader PMII. Lalu, membina para kader itu agar siap menjadi pengurus PMII selanjutnya yang cakap menumbuhkembangkan PMII sebagai organisasi kaderisasi intelektual penggerak Islam Indonesia.

Jadi, ketika semua hal penting itu berhasil dilaksanakan, maka in sya Allah kepengurusan ke depan akan lebih baik. Bukankah yang disebut sebagai pemimpin besar itu adalah pemimpin yang berhasil melahirkan orang-orang besar, bukan orang-orang yang membesarkan dirinya sendiri? Nilai kepemimpinan ini sangat sejalan dengan Nilai Dasar PMII. Dimana salah satu komponennya adalah nilai kemanusiaan atau humanis yang salah satunya adalah praktek hubungan timbal balik atau hubungan saling mendukung atau menguatkan satu sama lainnya.

Di era sekarang, untuk menghadapi bonus demografi, sudah selayaknya kita sebagai generasi muda untuk lebih bersiap. Terutama menghadapi fenomena saling bersaing yang kalau tidak kuat landasan karakter, akan sama hilang peradaban atau kemanusiaannya. Jadi, selain harus tangguh dalam keahlian, kita juga harus kukuh dalam pendirian. Dalam konteks teguh pendirian inilah, atau keteladanan karakter inilah, kita juga perlu kemampuan melakukan kolaborasi.

Sebab, yang namanya manusia tidak ada yang sempurna. Setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri. Jadi, kita tidak perlu malu mengakui kekurangan dan terbuka untuk kolaborasi dengan pihak lain. Tentu dalam konteks saling melengkapi dan mendukung menyelesaikan berbagai persoalan masing-masing maupun kolektif.

Maka sudah seharusnya yang muncul di setiap level kepengurusan PMII di OKU Timur bahkan di Sumatera Selatan, adalah kekuatan tim, kedaulatan sistem, bukan lagi kekuatan personal atau ketergantungan sistem. Hal ini, selain perlu di Kordinator Cabang Sumsel atau Cabang OKU Timur, juga harus berlaku di level komisariat-komisariat  dan rayon-rayon yang ada. Supaya ketika terjadi proses regenerasi seperti Konfercab ini atau Konferkorcab nanti, juga RTK dan RTAR, yang akan muncul adalah kader-kader yang memang benar-benar mempunyai skill dan kualitas kepengurusan atau kepemimpinan sendiri-sendiri.

Jika sudah begitu, bakal kecil terjadinya lagi kemacetan struktur. Seperti aksi loncat pagar yang dilakukan oleh oknum pengurus cabang ke pengurus kordinator cabang yang tanpa menyelesaikan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pengurus cabang. Sampai mengorbankan struktur Cabang PMII OKU Timur hingga terlihat bagaikan anak ayam kehilangan induk. Tanpa pembekalan dan skill yang mumpuni, mereka dituntut untuk bisa melangkah dalam keadaan buta. Hal ini juga berlanjut sampai kepengurusan dibawah, seperti komisariat dan rayon, baik komisariat STKIP Nurul Huda maupun komisariat STIT Misbahul Ulum Gumawang, bahkan menyebabkan kelumpuhan bagi komisariat STIT Misbahul Ulum tersebut. Jadi jangan kan mau mendirikan komisariat yang baru, komisariat yang sudah ada aja sudah hampir mati total.

Dengan begitu, secara kuantitas, mereka juga akan muncul secara cukup banyak atau malah menjadi kelompok elit dengan kapasitas komunitas tersendiri. Hal ini tentu saja akan menjadi prestasi paripurna PMII sebagai organisasi kaderisasi yang tuntas dalam membangun sumberdaya manusia nasional di tingkat lokal. Sehingga, setiap pergantian, pengurus baru sudah tidak lagi tolah-toleh kebingungan karena tidak mampu serta tidak ada yang mau membantu.

Tetapi, karena banyaknya kader yang berkompeten untuk mengisi kekosongan kepengurusan, organisasi tinggal menentukan skala prioritas program sesuai periode kepengurusan masing-masing. Langkah PMII di tingkat paling kecil yaitu rayon juga akan lebih tuntas mengurus fakultas atau program studi masing-masing dengan mendidik warganya yang sholeh sebagai mahasiswa fakultas atau prodi bersangkutan. Jika di level program studi saja warga PMII sudah merdeka sebagai mahasiswa yang berjaya bagi kampusnya atau lingkungannya, maka sangat besar pula peluang  kader PMII merdeka sebagai sumberdaya pemuda yang solutif, kreatif dan produktif bagi OKU Timur dan Sumatera Selatan.

Dalam konteks Cabang PMII, tentu akan lebih baik lagi bagi proses distribusi dan mobilisasi kader ke PKC bahkan PB secara lebih terarah dan terpola. Menguatkan kapasitas selama ini yang sudah teruji dan terbukti baik di PKC PMII Sumsel maupun PB PMII. Dimana OKU Timur  relativ lebih produktif mengirim kader-kader binaanya dibanding cabang-cabang lain di Sumsel. Tentu melalui keberhasilannya menyelenggarakan  Pelatihan Kader Lanjut (PKL) yang hampir secara periodik. Tentu pula dengan daya dukung utamanya yaitu Komisariat PMII Sekolah Tinggi keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Nurul Huda Sukaraja. Kampus yang diakui sebagai lokomotif transformatif di OKU Timur bahkan Sumsel ini tak lain adalah kampus milik Pondok Pesantren Nurul Huda (PPNH) Sukaraja. Berkah dari sistem pendidikan pesantren yang berperadaban kosmopolitan!

Penulis adalah Demisioner Ketua Komisariat PMII STKIP Nurul Huda. Kini Sekretaris ISNU Buay Madang dan Kordinator Liputan Sahabat Rakyat Komering Dotcom.