Menjalankan Hidup Sesuai Peran

Oleh: Yandi*

Manusia tergolong mahluk yang memiliki peran yang cukup banyak. Manusia berbeda dengan binatang atau hewan, kalau hewan tugasnya cuma cari makan dan berusaha untuk bisa bertahan hidup. Namun kalau manusia semakin ia menginjak dewasa dan memperoleh sesuatu keahlian, atau sebuah kelebihan, maka semakin tambah juga peran manusia tersebut.

Misalnya mereka yang tadinya anak-anak yang kerjanya hanya bermain, seiring berjalannya waktu ia  menginjak usia SD, lalu SMP,  kemudian SMA, terus kuliah. Itu artinya peran mereka bertambah yaitu sebagai seorang siswa dan jika ia punya adik, peran dikeluarga juga bertambah yaitu sebagai kakak untuk adiknya. Tidak hanya itu di sekolah juga ia bisa dipercaya jadi ketua kelas misalnya, berarti ia mempunyai peran sebagai seorang pemimpin di kelas tersebut. Demikian dimasyarakat, karena ia sudah dianggap mampu, tidak menutup kemungkinan ia juga dipercaya sebagai orang yang menduduki jabatan organisasi kepemudaan, bahkan jika manusia itu sudah dianggap mampu, ia juga bisa ditunjuk menjadi Kepala Desa tempat ia tinggal.Dan seterusnya.

Tak terkecuali juga ketika mereka sudah berada di perguruan tinggi atau ketika mereka sudah menikah, tanggung jawab mereka akan semakin berat.

Nah disini bagi mereka yang setia mengikuti proses dan sadar akan kodratnya, maka ia akan memahami dirinya sendiri dan mengetahui garisan-garis atau rambuh-rambuh masalah kelayakan sesuatu untuk dilakukan atau tidak dilakukan.

Misalnya seorang anak sadar bahwa ia adalah seorang anak kebanggaan orang tua nya, yang harus senantiasa bersikap patuh dan mentaati apa yang diperintahkan oleh orang tua. Ia juga harus bisa bersikap yang sesuai dan pantas layaknya seorang anak kepada orang tuanya. Begitu juga sebagai kakak untuk adik-adiknya. Bagaimana seharusnya sikap atau perilaku sang kakak tersebut kepada adik-adiknya tercinta. Atau  bagaimana seharusnya ia sebagai murid bersikap kepada gurunya.

Lalu ketika mereka menjadi orang tua, ia juga harus bersikap yang sesuai bagaimana peran yang baik untuk anaknya, istri atau suaminya.

Hal itu juga berlaku ketika mereka berada dilingkungan masyarakat. Bagaimana ia harus mampu menempatkan dirinya sesuai dengan kodratnya dan tanggung jawab yang ia pikul pada saat berada di masyarakat.

Artinya manusia harus mampu memposisikan dirinya sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawab yang sudah digariskan tersebut.

Namun sayang sekali kenyataan yang sering ditemui dilapangan tidak demikian. Karena nafsu Dan keinginan yang berlebih maka sangat banyak ditemukan manusia yang keluar jalur kelayakan tersebut.

Seorang anak durhaka kepada orang tua. Kakak berbuat kasar dan memberikan contoh yang kurang baik kepada adiknya. Orang tua bersikap kasar kepada anak atau istrinya atau sebaliknya istri bersikap kasar kepada suaminya. Murid bersikap kurang ajar kepada gurunya. Guru suka main kekerasan terhadap muridnya.

Contoh lain nya misalnya, seorang kepala desa menggunakan kekuasaan hanya untuk menjalankan kepentingan dan misi pribadi, keluarga atau orang terdekatnya. Camat yang hanya mementingkan urusan perutnya sendiri. Bupati yang menggunakan kekuasaan untuk membangun istana pribadi dan memperluas daerah kekuasaan agar ketika sudah tidak menjabat ia sudah mempunyai harta Gono gini yang tidak akan habis tujuh turunan. Demikian juga gubernur, dan para pejabat suatu negara yang lain bahkan sampai presiden sekalipun.

Sebagai contoh juga seorang ahli pendidikan misalnya, menjadi seolah tak memahami makna pendidikan. Ia suka memanfaatkan keahliannya hanya untuk kepentingan pribadi dan memuaskan nafsunya sendiri.

Dan seorang ulama atau sejenisnya, juga sering kali keluar jalur kelayakan yang dimaksud diatas.

Begitu lah kalau yang didewakan hanya nafsu, dan tanpa mengindahkan rambuh-rambuh yang ia temukan dan pahami dalam perjalanan hidup mereka selama ini.

Seorang pemimpin yang seharusnya mengayomi masyarakatnya tetapi yang ia lakukan malah menindas masyarakatnya. Pemimpin yang seharusnya banyak memberi untuk kepentingan masyarakatnya malah yang ia lakukan banyak mengambil apa yang dimiliki oleh masyarakatnya untuk kepentingannya dirinya sendiri.

Mereka seakan lupa dengan sumpah jabatan yang ia ucap pada saat mereka mau jadi pemimpin. Lupa kepada niat awal ketika mereka mau mulai melangkah atau memang sengaja dilupakan entah lah, hanya ia dan tuhan yang tahu.

Untuk itu penulis mengajak agar kita senantiasa ingat akan kodrat dan tanggung jawab kita masing-masing, misalnya seorang raja (presiden) harus bersikap layaknya seorang raja, yang suka mengayomi dan mendahulukan kepentingan rakyatnya. Seorang Pati patuh dan bersikap terbuka kepada pimpinan atau rajanya. Prajurit setia dan bersikap sesuai layaknya prajurit kepada pimpinannya. Begitu juga rakyat harus bisa bersikap dan mampu menempatkan diri sebagaimana seorang rakyat yang baik.

Dengan kita menjalankan peran dan tanggung jawab sesuai apa yang seharusnya. Maka insyaallah dunia ini akan damai, sejahtera, serta makmur.

~~~~~~~~~~~~~~~~
Penulis Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Nurul Huda (Unuha) yang mengabdikan diri di SMP berbasis pesantren di OKU Timur.