Krisisnya Tingkat Kewaspadaan Dalam Kehidupan Manusia

 

Penulis Artikel

Oleh: Yandi

 

 

Sahabat Rakyat Komering.Com – Hari ini saya mencoba untuk jalan kaki pergi ke masjid, kebetulan hari Jumat. Dan jarak masjid tersebut tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya, hanya beberapa puluh meter. Hal ini sepertinya sudah sangat jarang terlihat dilakukan oleh kebanyakan orang, semenjak adanya kendaraan baik roda dua juga roda empat. Kebanyakan dari mereka menggunakan alat itu untuk melakukan aktivitas keseharian sebagai alternatif mereka dalam melakukan perjalanan.

Hal itu diterapkan tidak hanya ketika perjalanan jauh, perjalanan dekat pun sama walau hanya berjarak beberapa puluh meter dari tempat mereka tinggal.

Begitulah kondisi yang ada sekarang, semua orang ingin serba cepat dan instan untuk memperoleh sesuatu. Tanpa memperdulikan apakah hal itu memang perlu, atau sebenarnya tidak terlalu perlu untuk dilaksanakan.

Kebiasaan seperti itu juga dapat menyebabkan ketergantungan seseorang terhadap sesuatu, termasuk dalam hal ini kendaraan untuk menyelesaikan permasalahan mereka.

Manusia akan beranggapan bahwa hidup mereka akan terhenti ketika sesuatu yang biasa ada dan tersedia, secara tiba-tiba hilang atau berhenti beroperasi sebab sesuatu hal.

Hidup dalam ketergantungan seperti itu sangat mengkhawatirkan, karena bisa membuat manusia menjadi lemah, kurang tanggap, bahkan bersikap terlalu pasrah atau kurang kreatif.

Kemudian selain itu, sifat yang demikian dapat memicu kurangnya kewaspadaan dalam menyikapi suatu kondisi atau perubahan yang mungkin saja terjadi.

Bahkan seorang pakar teori percepatan, Paul Virilio dari Francis sangat mengkhawatirkan mengapa banyak orang serba ingin cepat mengejar apa-apa hingga melalaikan hidup sendiri?. Mereka tidak memperhatikan akibat yang mungkin bisa terjadi.

Banyak orang yang tidak mempertimbangkan aspek integral accident atau unsur negatif dari sesuatu yang dilakukan.

Teori Paul Virilio itu disebut dengan Dromologi, yaitu sebuah pemikiran tentang percepatan dan perlombaan. Dalam kondisi seperti itu manusia ingin serba real time atau serba tepat dan cepat dan real space ( saat itu juga).

Sehingga akibatnya mereka akan kurang hati-hati bahkan sering kualitasnya kelewatan. Dan mengaggap bahwa apa yang telah mereka dapatkan adalah mutlak benar dan final akan keberadaannya.

Karena yang terjadi demikian, keinginan yang serba ingin cepat memiliki dan cepat memperoleh sesuatu, manusia menjadi tidak punya waktu untuk merenung serta kesempatan buat memahami lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi disekitar mereka.

Konsep Dromologi itu, menurut Paul sudah melanda di berbagai macam bidang kehidupan manusia, termasuk teknologi dan transportasi.

Awalnya menurut Paul manusia itu mempunyai nilai ketika mampu memproduksi sesuatu, itu terjadi pada awal modern. Lalu diakhir modern berubah, manusia itu statusnya tergantung dari apa yang ia konsumsi. Dan di masa pos modern, manusia mempunyai status ketika ia bisa lebih duluan memiliki sesuatu, lebih duluan mencapai apa yang didamba oleh orang banyak. Seperti itu lah gambaran kondisi kehidupan sekarang. Yaitu hidup dengan penuh perlombaan.

Dengan keadaan semacam itulah hidup terasa terlalu cape, napas menjadi terengah-engah, hingga dapat menimbulkan depresi dan kekhawatiran yang berlebihan dalam memperlakukan hidup.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Penulis merupakan salah satu Alumni Universitas Nurul Huda OKU Timur, Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Pendidikan Tahun 2020.