Belajar Sepanjang Masa

Oleh: Yandi*

Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa Rasulullah Saw. Diutus untuk menyempurnakan akhlak dan surat atau Wahyu yang pertama kali ia terima adalah Surat Al-Alaq yang memerintah agar kita umat manusia untuk senantiasa membaca dan banyak belajar sesuatu. Untuk mendapatkan hidup yang lebih baik.

Hal itu sangat ditekankan dalam surat tersebut, agar kita mempunyai kesungguhan untuk lebih belajar dan percaya akan kebesaran dan kuasa Tuhan, bahwa ia lah yang maha tahu atas segala apa yang manusia tidak tahu.

Disana amatlah jelas bahwa perintah membaca atau belajar itu sangat diutamakan supaya hidup manusia itu menjadi lebih baik.

Belajar itu tidak mempunyai batasan selagi nyawa makhluk yang disebut manusia masih dikandung badan. Kita ambil contoh seorang guru, baik itu guru dalam ilmu pengetahuan, guru spiritual, maupun guru ilmu kanuragan tentu mempunyai murid atau orang yang ia didik untuk menjadi lebih baik.

Nah, selama masa pendidikan berlangsung, mereka atau murid-murid tersebut akan diuji dengan berbagai macam ujian, sebagai tolak ukur untuk melihat sampai di mana tingkat kemajuannya selama dididik di tempat ia menimba ilmu itu.

Lalu setelah dinyatakan lolos dan pendidikan mereka dianggap selesai, maka mereka akan dilepas namun sebelumnya mereka akan dibaiat. Baiat itulah yang akan menjadi senjata sekaligus pusaka sakti bagi sang murid dalam menjalankan dan menghadapi berbagai macam tantangan dan tipu daya yang akan mereka jumpai setelah nanti mereka sudah tidak menjadi murid di tempat ia menimba ilmu tersebut. Karena saat itu mereka juga akan terpisah dari sang guru yang selama ini melindungi, membimbing dan mengarahkan langkahnya.

Biasanya kalau dalam sekolah formal seperti sekarang pembaiatan itu ada dalam bentuk janji pelajar atau janji wisudawan/wisudawati, janji sarjana, atau dalam pendidikan keorganisasian biasanya ada tersendiri sebagai pijakan atau landasan anggota dalam menjalankan roda organisasi, agar sesuai dengan maksud dan tujuan didirikannya suatu organisasi. Pun dalam pendidikan lain. Biasanya baiat itu berisikan pesan sekaligus rambu-rambu yang harus dipahami serta dipatuhi oleh sang murid sebagai anggota warga dipeguruan itu.

Bagi mereka yang meresapi secara sadar akan makna sekaligus isi pesan dari proses baiat yang ia alami, maka mereka akan selamat. Namun bagi yang ingkar, mereka akan kehilangan jati diri. Dan bahkan bisa mengalami kehancuran.

Kenapa dikatakan bagi ia yang ingkar akan kehilangan jati diri bahkan mengalami kehancuran. Karena pada saat ia ingkar, ia sudah tidak mempunyai pijakan yang bisa menjadi pondasi atau pun kekuatan yang selama ini ia gunakan sebagai identitas, ideologis, dan paradigma dalam menjalankan kehidupan. Sehingga ia akan hancur dan hilang untuk selama-lamanya.

Dari sini jelas, terlihat bahwa yang namanya belajar itu tidak hanya cukup ketika kita sudah mengalami proses baiat. Setelah dibaiat kita juga harus belajar serta berani mempertahankan identitas yang terpatri waktu kita sudah resmi menjadi salah satu bagian dari suatu padepokan atau tempat kita belajar dalam proses menemukan jati diri.

Selain itu ada juga hadits yang menjelaskan tentang perintah agar umat manusia menuntut ilmu sampai ke negeri Cina. Disini nampak jelas bahwa menuntut ilmu itu tidak ada habisnya. Serta ada juga hadits yang menyatakan, “Tuntutlah Ilmu dari Buaian Sampai Liang Lahat.” hadist ini juga mempertegas bahwa menuntut ilmu itu tidak ada batasya bahkan sampai kita berada dibawah papan.

Saya rasa kalau kita berpegang teguh pada prinsip dan keyakinan kita sendiri, yang kita peroleh dari belajar, maka kekuatan sebesar apapun yang datang untuk menghancurkan kita tidak akan berhasil. Kecuali sudah kehendak yang maha kuasa.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~
Penulis Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Nurul Huda (Unuha) yang mengabdikan diri di SMP berbasis pesantren di OKU Timur.