
Oleh : Dedy Mardiansyah & Mardiyah Hayati*
Baik Arlan maupun Himawan, keduanya sama mengungkapkan bahwa Komering adalah kontak penghubung Sriwijaya. Dengan peradaban Seminung dan kerajaan Skala Brakh sebagai leluhurnya.
Arlan dan Himawan sama mengajak kita menziarahi peradaban Seminung dan kerajaan Skala Brakh sebagai leluhur Sriwijaya dengan menelusuri sungai Komering.
Bedanya, Arlan mengajak kita ziarah Komering menggunakan biduk sejarah dengan periodisasi Sriwijaya sebagai kayuhnya. Sementara Himawan mengajak kita menziarahi Komering menggunakan biduk sastra dengan hikayat para phuyang sebagai kayuhnya.
Karenanya, wajar pula jika titik pemberangkatan ziarah Komering antara Arlan dan Himawan ini juga akan berbeda.
Arlan mengajak kita ziarah melalui hilirnya Komering sehingga kita langsung terpapar literatur problematika ibukota Sriwijaya. Arlan mengajak kita menziarahi Minanga Komering Ulu yang diidentifikasikannya sebagai kawasan ibukota Sriwijaya pemula.
Upaya Arlan ini bermakna teknis penyelesaian perdebatan letak ibukota Sriwijaya, juga lebih strategis dalam menegaskan peradaban Melayu Kuno yang berada di kawasan pegunungan Seminung sebagai pembentuk utama peradaban Sriwijaya.
Peradaban Bukit Pesagi yang diwariskan oleh kerajaan Skala Brakh yang membentuk kedatuan maritim Sriwijaya melalui sungai Komering dengan Minanga sebagai pelabuhan pertamanya.
Upaya strategis Arlan inilah yang paling memungkinkan kita untuk dapat bersuka cita jika kemudian menziarahi Komering dari hulunya. Sebagaimana yang Himawan lakukan dengan NPP ini.
Dengan menziarahi Komering dari hulunya, sebagaimana juga pesan Arlan di PSS, kita akan semakin sadar bahwa Komering ulayat utama masyarakat adat Nusantara pendukung peradaban Melayu Kuno pembentuk Sriwijaya.
Bahwa peradaban Melayu Kuno pembentuk Sriwijaya itu berada di kawasan pegunungan Seminung yang berpusat di Bukit Pesagi dengan simbolnya kerajaan Skala Brakh.
Dari kraton Skala Brakh inilah Ratu Skrumong, raja terakhir Skala Brakh, mengutus tujuh orang phaksi (punggawa). Ketujuh phaksi itu untuk turun ke Danau Ranau lalu menyusuri sungai Komering hingga ke muaranya yaitu Minanga.
Tujuannya membentuk peradaban baru yaitu wangsa Sriwijaya sebagai penerus peradaban lama yaitu wangsa Tumi.
Dasar dari pengutusan ketujuh phaksi yang kemudian menjadi para phuyang atau leluhur masyarakat Komering adalah penyelamatan bagi wangsa Tumi atas serangan kerajaan Pagaruyung.
Selain juga didorong oleh isyarat atau amanat dari para leluhur wangsa Tumi sendiri. Itulah inti paparan ziarah Komering dengan biduk yang kayuhnya bermerek NPP dari Himawan yang dirilis pada Agustus 2019 ini.
Ya, wacana kerajaan Skala Brakh yang mengutus 7 orang punggawanya guna “babat alas” Komering sebagai “Tanah Harapan” untuk meneruskan peradaban Buay Tumi adalah yang diketengahkan penulis NPP.
Pendekatan geografis menjadi kekuatan subjek penulis yang memang lulusan Geografi Universitas Lampung ini sudah terlihat sejak awal seperti pada halaman Pengantar Baca buku ini.
Cukup membantu menegaskan Kita yang awam wawasan Komering tentang sebaran wilayah peradaban Uluannya sebagai permulaan Sriwijaya. Yang karenanya menjadi kontak pertama wangsa pembentuk peradaban Sriwijaya yang turun dari Bukit Pesagi (Pegunungan Seminung Wilayah Bukit Barisan Selatan).
Dedy Mardiansyah adalah Alumni dan Dosen Unuha. Pendiri Pusat Kajian Komering Unuha ini pernah menjadi Sekum MUI OKUT, Wakil Ketua GP Ansor OKUT dan Ketua KNPI OKUT. Selain Ketua IKANUHA, ia juga Wakil Ketua Yayasan PPNH Sukaraja, Wakil Katib PCNU OKU Timur dan Wakabid Pendidikan, Dakwah dan Pesantren DPC PPP OKUT. Mardiyah Hayati adalah juga Alumni dan Dosen Unuha. Selain sebagai Pembina Asrama Putri Al Umami PPNH Sukaraja dan Pengelola Jurnal Mahasiswa PBSI FIP Unuha juga Wakil Bendahara Yayasan PPNH Sukaraja.

