
Oleh : Dedy Mardiansyah*
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) adalah makhluk, bukan khalik. Karena makhluk, ia adalah jalan, bukan tujuan. Jalan untuk menjadi khalifah Allah, Sang Khalik, di bumi Nusantara dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karenanya, ber-PMII dapat pula berarti berjalan menjadi khalifah baik dalam lokus sekecil keluarga hingga ke lokus sebesar negara.
PMII potensial menjadi kawah candradimukanya khalifah-khalifah Allah di Nusantara. Yang berdasarkan Pancasila, bakal berjuang mewujudkan pelayanan publik sebaik-baiknya di setiap tempat dan saat dimana mereka nanti berada. Berdasarkan tuntunan teologi Ahlussunnah wal Jamaah dengan alat analisa sosialnya yang bernama Paradigma Kritis Transformatif. Karenanya, sangat lumrah jika sekarang yang menjadi tema besar alumninya, terasa atau tidak terasa, adalah bagaimana dapat muncul sebagai Khalifah NKRI.
Meski Kiai Haji Abdurrahman Wahid, akrabnya Gus Dur, bukan alumni PMII, namun latar kultural dan struktural yang dimiliki tokoh ini membuat PMII, terutama alumninya, termehek-mehek untuk mengidentikkan diri dengannya. Menjadikannya tokoh panutan bagi pergerakan Islam Indonesia. Tak jarang pula, sosok alumnus pesantren yang kuliahnya di luar negeri ini disebut sebagai Walinya PMII. Tidak mengherankan, sebab karakter Khalifah NKRI seperti di atas tadi tampaknya memang telah dengan tuntas diperankan secara apik dan menarik oleh tokoh ini.
Kegalauan internal struktural kepengurusan PMII hari ini, tampaknya, bukanlah lagi soal paradigma, ideologi atau bahkan teologi gerakan PMII. Akan tetapi, menurut hemat kami, adalah pada upaya menentukan judul bagi agenda gerakan organisasionalnya. PMII hanya galau dalam menentukan judul bagi agenda gerakannya, bahkan, bukan pada agenda gerakan itu sendiri. Sebab, PMII sudah berada di dalam track-nya yang jelas dan tegas. Menuju bangsa yang jaya dengan Islam yang benar dimana pendidikan, peradaban dan perekonomian umat Islam Indonesia sudah jelas merupakan rumusan permasalahan pergerakan yang telah, tengah dan tetap akan digelutinya.
Merujuk kepada dinamika historis sosiologis Nahdlatul Ulama dan pesantren sebagai basis kesadaran sejarah yang melahirkan PMII, maka sesungguhnya kebangkitan pendidikan transformatif, peradaban Islam Nusantara dan perekonomian pesantren (pesantreneurship) di Indonesia, sebagaimana yang telah dirintis Gus Dur, adalah yang membutuhkan sentuhan tangan para khalifah lulusan padepokan PMII itu entah dari mana saja pintu masuk mereka nanti, eksakta atau humaniora. Yang jelas, ketuntasan program dengan pelayanan yang memuaskan publik Indonesia dan dunia yang berbasis tiga titik kebangkitan di atas adalah hal utama yang ingin dicapai.
Karenanya, PMII mestilah fokus pada tema agenda yang berupa menghadirkan kompetensi mengelola kebangkitan Islam Indonesia yang berbasis integrasi perjuangan kebangkitan pendidikan transformatif, perjuangan kebangkitan peradaban Islam Nusantara dan kebangkitan perekonomian pesantren. Karenanya, substansi kompetensi khalifah lulusan padepokan PMII adalah tata kelola kebangkitan Islam Indonesia. Sebab, ber-PMII, sejatinya, adalah belajar menjadi khalifah bagi kebangkitan rakyatnya, umat Islam Indonesia. Ber-PMII adalah belajar menjadi khalifah Nahdlatul Islam Indonesia. Ber-PMII adalah menjadi Khalifah Nahdliyah.
Selama Islam yang diyakini adalah bervisi menjadi anugerah terindah bagi alam semesta dengan misinya penyempurnaan keluhuran peradaban (budi pekerti), berdasarkan Quran, Hadits, Ijma’ dan Qiyas yang terimplementasi secara integral lewat Syariat, Haqiqat, Thariqat dan Ma’rifat dengan kacamata Pancasila dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, kemunculan Khalifah Nahdliyah ini amatlah niscaya.
Khalifah Nahdliyah dapat muncul dari PMII mengingat basis sosialnya yang kuat mengakar dalam tubuh PMII. Pendidikan Transformatif sebagai pendidikan berbasis kebaikan tradisi yang mengadaptasi keutamaan modernisasi demi terwujudnya kemaslahatan umat seperti halnya dinamika pesantren adalah kesadaran asal PMII.
Peradaban Islam Nusantara sebagai peradaban yang mengandung nilai universal Islam nan kosmopolitan sekaligus kearifan lokal Nusantara nan berkeanekaragaman adalah nafas kultural PMII. Perekonomian Pesantren (Pesantreneurship) yang amat memungkinkan untuk memunculkan Indonesia sebagai teladan utama dunia adalah target market paling potensial bagi PMII.
Dengan mengembangkan nilai keramat warisan Gus Dur, Mbah Sutan Malaka, Datuk Sunan Kalijaga, Negara Kesultanan Demak Bintara, Imperium Majapahit dan Kemaharajaan Maritim Dunia Sriwijaya serta para pejuang luhur pergerakan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia lainnya, adalah niscaya bagi PMII untuk menegaskan tema bagi agenda gerakannya; Agenda Khilafah Nahdliyah.
Kaderisasi berorientasi output dan outcame alumni yang berkarakter luhur dan terampil dalam tata kelola lingkungan menjadi kegiatan utama. Tidak hanya keren (keramat) secara personal, tetapi juga canggih secara sosial dan teknikal manajerial. Tokoh yang mampu menggerakkan masalah menjadi maslahah. Menggerakkan persoalan menjadi penyelesaian. Berwawasan global tetapi bertindak amat sesuai dengan kearifan lokal.
Ranah ibadah dan ranah khilafah sebagaimana dikandung oleh Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII menyiratkan bahwa kader PMII itu adalah mandataris (khalifah) Allah untuk mengurus bumi-Nya. Karakter kader khalifah ini tentu saja pertama-tama tuntas ibadahnya, baik ibadah individual maupun ibadah sosial. Tidak hanya diutamakan mampu membaca kitab kuning dan menulis artikel atau buku ilmiah, tetapi juga tidak terkait dengan urusan LGBT, narkoba dan korupsi.
Selain itu juga tidak lagi perlu direpotkan dengan perdebatan seputar perbedaan teknis (furu’iyah) teologis ataupun hukum klasik seperti terpancing untuk menanggapi serangan terhadap amaliyah tradisi yang identik dengan latar kultural PMII (NU) sebab demikian itu sudah tidak keren untuk ditanggapi. Hal yang seperti itu justru kontra produktif jika ngotot dengan perdebatan tapi tidak ngotot lewat pengamalan. Justru, kalau mau bahtsul masail atau ber-mujadalah (berdebat) yang keren, produktif dan transformatif itu adalah bagaimana teknis kebangkitan umat Islam Indonesia berbasis kebangkitan organisasi pelajar, mahasiswa dan pemudanya. Itu justru keren tingkat dewa.
Sementara ranah khilafah kaderisasi PMII adalah ranah dimana kader diberikan pendidikan dan pelatihan yang berorientasi pembangunan dan peningkatan kapasitas tata kelola lingkungan mereka yang berorientasi kemaslahatan warganya. Mulai dari rayon hingga kordinator cabang. Karena, di situlah, di kemampunan tata kelola lingkungan itulah letaknya ruh khilafah dalam NDP PMII. Jika dari rayon PMII saja kepengurusannya tuntas, tidak amoral individual dan sosial dan warganya terpuaskan, sampai ke masyarakat nanti mereka berpotensi menjadi pemimpin yang sholeh individual dan sosial serta memenuhi standar kebijakan publiknya.
Karenanya, Agenda Khilafah Nahdliyah adalah sebuah agenda yang sejatinya memungkinkan PMII untuk berperan penting dalam kaderisasi pemimpin teladan utama dunia. Bukankah PMII merupakan inspirasi bagi kelahiran putera-puteri bangsa yang bebas merdeka? Bangsa yang tidak mau dijajah sekaligus tidak mau menjajah?
Bangsa yang mampu bersatu karena berbeda yang teramat mencintai Junjungan Kita Nabi Muhammad Putera Abdullah sebagai Masterpiece Peradaban. Hasbunallaah. Semoga demikian adanya. Salam berkah senantiasa.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Penulis adalah Ketua I PC PMII Kota Bengkulu 2003-2004. Pernah menjadi Sekum MUI OKU Timur. Kini mengabdi sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja (IKANUHA).

