Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), Prof. Dr. H. Amin Suyitno, M.Ag., menyatakan dukungannya terhadap pembukaan Strata 2 Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) di Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Pendidikan Nurul Huda (STKIP NH) Sukaraja.
“Ya, secara sarana memang sudah sangat memadai. Baik untuk menjadi universitas maupun untuk buka program pascasarjana,” ungkap pejabat Kemenag yang memulai karirnya di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang ini dalam kegiatan monitoring dan pembinaan di Aula Kampus A STKIP NH Sukaraja, pagi Jumat (18/6).
“Kita dukung, tapi tentu saja, kalau bahasa pesantrennya, sesuai rukun dan syaratnya. Salah satu syaratnya ketercukupan dosen yang sudah doktor dan jabatan fungsionalnya sudah lektor kepala,” jelas tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang sewaktu bertugas di Sumatera Selatan ini dikenal luas di pergerakan mahasiswa, dunia penelitian dan pengabdian masyarakat.
Prof. Suyitno, demikian akrabnya, menekankan pula pada kesiapan sumberdaya manusia STKIP NH Sukaraja terkait kesiapannya menuju universitas. Apalagi kampus ini berakar dari pesantren yang sudah melampaui usia 40 tahun, tentu akan menjadi model percontohan di wilayahnya.
“Nurul Huda ini, seperti yang disampaikan Beliau Kyai Affandi tadi, sudah matang. Sudah saatnya kampusnya jadi universitas. Sudah mungkin selenggarakan pascasarjana. Tapi pengelolanya, dosen-dosennya, karyawannya, harus move on dari cara lama ke cara baru. Jangan sampai sudah universitas tapi caranya atau rasanya masih sekolah tinggi. Mulai dari sekarang, segenap civitas akademika STKIP ini harus mengembangkan kapasitas dan kualitasnya secara universitas,” tegasnya.
Selain tentang kesiapan menjadi universitas dan kemungkinan mengelola program pascasarjana, kepada hadirin yang terdiri dari jajaran pengurus yayasan, pimpinan kampus, pimpinan prodi, lembaga dan unit juga para dosen, Prof. Suyitno juga menegaskan tentang modal utama kesuksesan yaitu kekompakan.
“Ya, selain harus punya mimpi yang besar dan optimisme yang kuat, yang paling mendasar adalah kekompakan. Sampai ada istilahnya itu lal jami’ah illaa bil jama’ah. Tidak ada kampus tanpa adanya kekompakan. Perguruan tinggi tidak akan hidup kalau kekompakan, ketertiban dan kerukunan tidak hidup,” tegasnya. (Yandi)


