Oleh : Ana Pertiwi
Sahabat Rakyat Komering.Com – Pancaroba, atau masa peralihan antara musim hujan dan musim kemarau, menjadi momok menakutkan bagi para petani karet di berbagai daerah di Indonesia. Masa ini membawa tantangan besar yang berdampak langsung pada produktivitas dan kualitas hasil karet, yang pada akhirnya mempengaruhi pendapatan mereka.
Salah satu dampak utama pancaroba adalah perubahan cuaca yang ekstrem dan sulit diprediksi. Ketika masa peralihan ini terjadi, sering kali curah hujan menjadi tidak menentu dan kelembaban udara berubah drastis. Hal ini sangat berpengaruh pada proses penyadapan getah karet. Saat hujan turun secara tiba-tiba, proses penyadapan harus dihentikan untuk menghindari kontaminasi getah dengan air. Selain itu, kelembaban tinggi juga dapat menyebabkan getah yang sudah disadap menjadi cepat membeku dan sulit diolah.
Selain masalah teknis dalam penyadapan, pancaroba juga memicu meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman karet. Kondisi cuaca yang berubah-ubah membuat tanaman menjadi lebih rentan terhadap serangan jamur dan bakteri. Misalnya, jamur Phytophthora yang menyebabkan penyakit gugur daun bisa menyebar lebih cepat dalam kondisi lembab. Penyakit ini dapat mengakibatkan daun karet berguguran dan mengurangi kemampuan tanaman untuk berfotosintesis, sehingga produksi getah karet menurun drastis.
Tidak hanya itu, pancaroba juga mempengaruhi kualitas tanah tempat tumbuhnya tanaman karet. Curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan erosi tanah dan mengurangi kandungan nutrisi yang penting bagi pertumbuhan tanaman. Akibatnya, tanaman karet tidak dapat tumbuh optimal dan produksi getah menjadi berkurang.
Bagi petani karet, situasi ini sangat memprihatinkan. Pendapatan mereka yang bergantung pada hasil karet menjadi tidak menentu. Seringkali mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli pestisida atau pupuk guna menjaga tanaman karet tetap sehat. Namun, pengeluaran ini tidak selalu sebanding dengan peningkatan produksi, sehingga mereka harus menghadapi kerugian finansial.
Belakangan harga komoditi hasil perkebunan sangat santer diperbincangkan di kalangan masyarakat. Bagaimana tidak contohnya saja harga kopi yang berada dikisaran 25.000/kg kian melambung hingga menembus angka 60.000/kg. Tak sejalan dengan harga kopi yang terus melonjak harga komoditi getah karet hanya mengalami kenaikan harga yang terbilang hanya sedikit. Yaitu diangka 10.500 untuk timbangan setiap minggunya.
Meskipun demikian petani sudah sangat senang dengan kenaikan harga karet saat ini. Namun ada masalah lain yang dihadapi petani baru-baru ini, yaitu tak tentunya cuaca setiap harinya yang mengakibatkan petani kerepotan dalam proses penyadapan getah karet yang ada.
Seperti yang di alami oleh salah satu petani karet yang ada di desa Kampung Baru ini beliau mengaku harus banyak merugi akibat getah karet yang belum membeku namun sudah terguyur oleh air hujan yang mengakibatkan getah yang disadap hancur dan tidak dapat diambil lagi. Ailih-ailih demikian petani karet kian meradang dengan perubahan cuaca yang kian tak tentu saat ini. Petani karet harus rela tidak menyadap getah karet karena hujan yang turun hingga sore hari.
Dilansir dari beberapa sumber di google batang karet yang basah sangat sulit disadap, selain dapat mempengaruhi hasil getah karet juga dapat memperpendek umur batang karet itu sendiri. Petani karet pun sangat mengeluhkan harga pupuk yang kini kian melonjak yang tak sesuai dengan harga getah karet. Sebab setiap beberapa bulan sekali pohon karet harus selalu di pupuk untuk menjaga kualitas getah dan pohon karet itu sendiri.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Penulis merupakan Mahasiswa Universitas Nurul Huda OKU Timur, Program Studi Guru Madrasah Ibtidaiyah.


