Sapa Kita Jolma Kumoring

(telaah ringkas demografi dan nilai budaya) Oleh: Jousairi Hasbullah*

Berbicara tentang Kumoring itu menarik. Suku kecil yang cukup fenomenal. Nilai-nilai budayanya cukup unik, hasil persilangan dari variasi budaya besar dunia. Tulisan kecil ini berupaya mengulas sisi-sisi yg belum banyak disentuh. Demografinya dan nilai-nilai budaya afirmatifnya. Ini bukan karya ilmiah, tetapi dapat nenjadi premis dan atau hipotesis bagi kelak penelitian yg lebih mendalam

Demografi Orang Komering

Jolma Kumoring (selanjutnya saya sebut orang Komer‐ ing) itu tidak banyak. Satu-satunya data yang dapat menggambarkan ukuran kuantitatif warga Komering adalah dari Hasil Sensus Penduduk 2010 ( SP2010) Sedangkan Sensus Penduduk 2020 ( SP2020) gagal mengumpulkan data suku, terkait Covid 19. Hasil SP2010 tersebut menunjukkan jumlah anggota suku Komering di seluruh Indonesia tercatat sebanyak 370 119 jiwa. Terdiri dari 188 643 laki-laki dan 181 476 perempuan. Orang Komering itu lebih banyak laki-laki dibanding perempuannya.Jika dihitung persentasenya, suku Komering hanya 0,17 persen dari total penduduk Indonesia. Menempati urutan ke 41 suku terbesar.

Di dalam Provinsi Sumatera Selatan, besaran populasi suku Komering, 339 928 jiwa, hanya menempati posisi ke 6 (enam) setelah suku Jawa, Melayu, Palembang, Musi dan Ogan ( Note dalam klasifikasi suku, beberapa Antropolog memisahkan suku Palembang dan suku Melayu. Suku terbesar di Sumsel adalah suku Jawa).

Walaupun populasinya kecil, tetapi catatan sukses orang Komering sangat fenomenal. Mereka sukses menduduki posisi penting di masyarakat. Ada yang menjadi ulama besar. Di eksekutif menjadi gubernur, eselon 1, bupati, dan duta besar. Ada pula yang menjadi legislator, jenderal, profesor, seniman, dirut BUMN, pengusaha dan sukses di beragam bidang lainnya. Dibandingkan dengan suku-suku yang besarnya setara, suku Komering mungkin termasuk diantara yang paling sukses. Walau banyak pula yang masih tertinggal, miskin dan bahkan terus berjuang untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Pencampuran Nilai Budaya

Orang Komering itu outward looking. Walau hidup dalam kesederhanaan di desa tapi mereka mengikuti perkembangan dunia. Di awal tahun 1960an ketika me‐ dia komunikasi masih sangat terbatas, televisi belum ada, radio hanya dimiliki beberapa gelintir orang, para pemuka desa sangat fasih berbicara perkembangan dunia. Mereka berbicara tentang Amerika, tentang Soviet Union, tentang Jakarta dan politik Indonesia dan tentang tokoh-tokoh seperti John F Kennedy,

Kruschev, Kemal Attaturk dan banyak tokoh dunia lainnya. Spirit outward looking inilah yang mengin‐ spirasi anak-anak desa di Komering untuk merantau. “Mortok cara hulun. Mortok jadi jolma” ( ingin seperti sukses orang lain, ingin jadi “orang”) Ingin sekolah dan bekerja di kota dan didukung oleh para orangtua. “Niku ngoras hati yo. Nyalat. Dang Bori” (kira-kira terjemahan bebasnya: kamu bertekad ya..pantang menyerah).Anak-anak yang merantau membentuk pola chain migration (merantau menumpang secara berantai ke saudara yang telah lebih dahulu merantau)

Spirit outward looking para orangtua: ubak-umak dan tombai tambakas inilah yang telah melahirkan spirit “nyalat” (nekad untuk maju) dari anak-anak Komering di tanah rantau..dan semangat itu pula yang telah melahirkan generasi sukses di berbagai bidang seperti yang disebutkan sebelumnya.

Komering itu unique. Kita paham bahwa nilai budaya itu selalu mengusung ambivalensinya sendiri. Di ujung sana mengusung nilai-nilai produktif, di pangkal sini kadang ambivalennya yaitu nilai yang kurang produktif. Di balik spirit outward looking yang luar biasa (untuk ukuran suku kecil di daerah Uluan) terdapat pola-pola budaya yang sangat dipengaruhi oleh budaya Melayu yang cenderung kurang mendukung perubahan/ transformasi secara cepat dan produktif. Ada beberapa nilai yg membentuk nilai-nilai etik (code of ethics) orang Melayu yang diadopsi secara kuat oleh orang Komering.

Pertama, nilai kepantasan ( proper) yg kadang berlebihan, walau saat ini sudah lebih mencair. Konsep orang baik, dari perspektif budaya, adalah apa yang perilakunya harus berkesesuaian dengan kebiasaan.

What is good not what is pleasant, but what is proper. Nilai kepantasan ini bagus untuk membangun kohesifitas komunitas, tetapi bisa menjadi tidak produktif jika dilakukan berlebihan. Apabila pola nilai ini tetap kuat dianut, akan sangat membatasi kemungkinan terjadinya terobosan-teribosan baru, pemikiran-pemikiran baru dan temuan-temuan baru. Kawatir akan dikatakan mak gohgoh rik rumpok.

Nyuliang diwik. Mak angka hun juk sina. Inovasi pun stagnan. Pola-pola bercocok tanam sulit berubah.

Linier. Tidak berani berbeda. Bertani tapi beli sayur mayur dari saudara kita petani suku Jawa. Masih sangat banyak contoh lainnya dimana orang Komering di Komering relatif sulit menggeliat untuk membuat terobosan baru dan mengubah status sosialnya (vertical mobility) karena faktor budaya proper dengan kebiasaan (habitus) yg berlebihan.

Kedua, orang Komering kuat sekali mengadopsi budaya Melayu terkait penggunaan waktu. Walau yang bersawah bekerja dari pagi sampai menjelang magrib, tetapi ketika habis panen banyak sekali waktu luang yang tidak dimanfaatkan. Kebiasaan ngobrol berjam-jam di bawah rumah, di tepi sungai dan atau di garang ( beranda) menghabiskan waktu yang sangat tidak produktif. Budaya ini memang khas Melayu dan India, yang merembesi keseharian warga Komering. Pola budaya yang sulit sekali didapatkan di kebudayaan Asia Timur: Jepang, Korea dan China.

Katiga, orang Komering belum terbiasa dengan nilai-nilai investasi. Fungsi uang           sebatas alat tukar untuk memperoleh barang konsumsi. Ketika harga karet tinggi, uang banyak, masyarakat bukan menabung uang untuk diinvestasikan, melainkan berlomba membeli/ mengeridit motor. Membeli HP merk terbaru dan kenduri besar-besaran. HP orang di dusun setara HP orang-orang terkenal di Palembang dan Jakarta. Pesta pernikahan mengundang hiburan orkes yang cukup mahal. Ketika harga karet jatuh, hutang kredit motor masih menumpuk. Motor disita. Miskin kembali. Budaya konsumtif ini pun khas Melayu yang tidak terdapat dalam tradisi Asia Timur.

Keempat, orang Komering memiliki kebanggaan diri (pride) dan rasa ingin di”anggap” (sense of recognition) tinggi. Tetapi bersamaan dengan itu, kita juga sesungguhnya suku yang cenderung “minderan” dan inferior. Di tahun 1950an gelombang besar orang Komering mulai bermigrasi ke tiga kota/daerah tujuan utama yaitu Palembang, Lampung dan Jakarta. Di tiga kota/ daerah tujuan ini karakter perantau Komering sangat berbeda. Di Palembang tujuan utamanya untuk bekerja di pabrik minyak BPM/Permina Plaju-Sungai Gerong.

Di Lampung mengisi formasi di administerasi pemer‐ intahan dan di perkebunan lada. Di Jakarta bekerja di pemerintahan dan atau di perusahaan Industri.

Di Lampung, lompatan status sosialnya tidak jauh. Banyak yang juga berkebun, seperti waktu di dusun. Karena itu rasa inferior sangat minimalis. Begitu juga di Jakarta, perantau banyak berinteraksi dengan be‐ ragam suku dan asal, sama sama dari dusun masing- masing. Rasa inferior itu juga minimalis. Di Lampung dan di Jakarta mereka tetap berbahasa Komering.

Berbeda halnya dengan yang di Plaju dan Palembang.

Perusahaan minyak yg keren. Dulu, kita hanya bisa terpukau bisu memandangi Noni-noni Belanda tinggal di kompleks dengan halamannya yang luas dan eksklusif. Bisa dipahami, jika para pegawai baru dari Uluan ini, ketika memasuki lingkungan minyak, hidup serasa terlontar ke atas menjelma menjadi kelas sosial baru. Kehidupan baru itu bersentuhan pula dengan budaya “iliran” yang memandang orang Ulu sebagai mahluk tertinggal. “Si Ulu”. Rasa minder itu, pada awalnya, seperti merembesi jiwa-raga orang Komering. Anak-anak orang Komering banyak yang tidak biasa lagi berbahasa Komering walau ubak dan umaknya, dua2nya dari Komering. Mereka, dalam rumah “ubak-umak” rik anak berbicara bahasa “modern” bahasa Palembang. Ini berbeda dengan Komering yang di Lampung, yang sampai ke “umpu” dan “tuyuk”nya tetap fasih berbahasa Komering.

Rasa inferior itu, suka atau tidak suka, sudah terindikasi sejak zaman penjajah. Sebelum tahun 1945, penjajah itu bukannya kita lawan, tetapi kita agungkan, dengan segala kenyamanannya tanpa ada yang berani mengusik. Mau membantah? Ngga percaya?. Mari kita lihat indikasinya. Di Komering Hoeloe, menurut data dari Volkstelking tahun 1930, hanya ada 17 orang Belanda. Berarti sekitar 4 keluarga saja. Mereka menetap di Martapura. Hidup nyaman di lingkungan orang Komering. Penduduk Komering Hoeloe waktu itu berjumlah 70 145 orang. Di Moeara Doea yang berpenduduk  52 587 orang, orang Belan‐ danya sebanyak 47 orang, hidup nyaman sore-sore menyeruput kopi berteman tembakau Ranau. Kenapa mereka nyaman? Banyak varian jawaban, tetapi yang paling mungkin karena kita merasa lebih rendah dari mereka, dan justru suka ada orang Belanda. Tidak ada tentara Belanda di tanah Komering masa itu. Yang ada, adalah aparat dari warga pribumi itu sendiri. (tulisan yg mirip terkait Demografi Masa Kolonial ini, untuk tingkat nasional saya tulis di opini Harian Kompas, Agustus 2018).

Orang Komering itu, walaupun ada rasa inferiornya terhadap penjajah, tetapi tidak pernah dijajah oleh Belanda, dalam pengertian, dieksploitasi. Tidak. Tidak ada tanam paksa. Tidak ada yg masuk penjara politik. Tidak ada kewajiban menyetor upeti. Orang Komering di tahun 1800an dan awal 1900an makmur. Buktinya? Berbondong-bondong mereka Naik Haji di masa itu.

Dibalik kekuatan dan keterbatasannya, orang Komering yang jumlahnya sedikit itu memiliki spirit untuk maju yang luar biasa. Ada yang masih tercecer. Iya. Itu tugas sejarah. Bagi yang berhasil untuk terus menumbuhkan spirit “Ngoras Hati, Nyalat, Mak kubori harus berhasil” kepada tunas-tunas muda Komering. Terus hela yang baik, minimalkan yang kurang. Insya Alloh, kita akan lebih tangguh. Dan Komering tak kan hilang dari Bumi. Dari peradaban dunia.

Bandung..Agustus 2021 Jousairi Hasbullah.

* (Penulis bbrp buku antara lain: Buku Mamang dan Be‐ landa: Goresan Wajah Sosek Sumsel zaman Kolonial, Unsri. 1996;  penulis buku Social Capital: Menuju Ke‐ unggulan Budaya Bangsa. MRPress Jakarta 2006..dan Buku Tangguh dg Statistik. NC. Bdg 2012 dan lain-lain)