Pesantren Ramadan, PMII PBSI STKIP Nurul Huda Buka Kelas Menulis Gus Dur

BUAY PEMUKA PELIUNG – Menyemarakkan Ramadan sekaligus Hari Pendidikan Nasional tahun ini, Pengurus Rayon (PR) Pergerakan Mahasiswa Islam (PMII) Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) STKIP Nurul Huda gelar Pesantren Ramadan. Bertempat di kompleks Pondok Pesantren Nurul Mustaqim Desa Bandar Jaya Kecamatan Buay Pemuka Peliung, Pesantren Ramadan ini diisi dengan Kelas Menulis Gus Dur dan Pengajian Kitab Pendidikan Ki Hajar Dewantara.

“Ya, berdasarkan arahan majelis pembina, Pesantren Ramadan ini kami laksanakan. Selain untuk menyemarakkan Ramadan dan Hardiknas, giat ini intinya penguatan program PMII sebagai organisasi kaderisasi mahasiswa,” terang Ketua PR PMII PBSI STKIP Nurul Huda, Mela Arista. Mahasiswi Semester VI ini menegaskan bahwa pihaknya selaku pengurus mencoba menjadikan Pesantren Ramadan sebagai wahana penguatan kemampuan anggota dan kader PMII PBSI STKIP Nurul Huda. “Terkait kecakapan literasi dengan pendekatan pengenalan teks Gus Dur dan Ki Hajar Dewantara. Mudah-mudahan kegiatan Pesantren Ramadan model pendekatan literasi atau yang semacam ini dapat permanen ke depan,” pungkas kader asal OKU yang mondok di Asrama Miftahul Huda ini.

Acara yang dipandu oleh senior yang demisioner Ketua PK PMII STKIP Nurul Huda yang juga demisioner Ketua PR PBSI STKIP Nurul Huda, Yandi, S.Pd., ini selain diikuti oleh warga dan kader PBSI juga dihadiri oleh Fatkurrahman Wahid dan Agus Jatmiko, Ketua BEM dan Ketua DPM STKIP Nurul Huda yang baru. Dimulai dengan Kelas Menulis Gus Dur dari pukul 16.00 s.d. 17.30 WIB dan diteruskan dengan Pengajian Kitab Pendidikan Ki Hajar Dewantara Sub Bab Pertanggungjawaban. Pesantren Ramadan ini ditutup dengan buka bersama para santri Madrasah Ibtidaiyah dan Sekolah Menengah Pertama Nurul Mustaqim didampingi dewan guru.

Dedy Mardiansyah, M.Pd., dosen PBSI STKIP Nurul Huda selaku pengasuh kegiatan Pesantren Ramadan menyampaikan bahwa Gus Dur dan Ki Hajar Dewantara adalah di antara tokoh utama inspirator perjuangan PMII. “Keduanya adalah tokoh dengan karakter yang senantiasa konsisten dalam jalur belajar sembari berjuang. Berjuang dengan mendidik masyarakat sekaligus mengkader dan mengorganisasi mereka. Di samping itu, keduanya juga produktif menuliskan ide-ide terkait perjuangan mereka. Dalam konteks menulis ini, baik Gus Dur maupun Ki Hajar merupakan sosok penulis nan humanis. Sisi humanis yang menjadi inspirasi para tokoh dunia ini uniknya berbasis pesantren. Jadi, basis pesantren itu keren,” terangnya.

Anggota Majelis Pembina Daerah Pengurus Kordinator Cabang (PKC) PMII Sumatera Selatan ini juga menegaskan bahwa Pesantren Ramadan dengan pengenalan teks Gus Dur dan Ki Hajar Dewantara ini adalah ajakan agar warga PMII khususnya dan mahasiswa STKIP Nurul Huda umumnya lebih cakap literasi. “Setidaknya dituntut cakap dan gemar membaca dan menulis. Sebab itu salah satu kunci kesuksesan perjuangan. Kita memang tidak dapat memastikan akan jadi apa nanti meskipun ada penjurusan seperti keguruan dan ilmu pendidikan ini. Tapi, setidaknya, dengan cakap membaca, menulis, menyimak dan berbicara, kita sudah menunaikan satu tanggung jawab”, pungkasnya.

Ketua Yayasan Nurul Mustaqim, Ahmad Supangat, M.Pd.I., selaku tuan rumah sesaat sebelum buka puasa menyampaikan terima kasih dari pihaknya selaku tuan rumah. “Kami mewakili keluarga besar Nurul Mustaqim berterima kasih atas adanya kegiatan ini. Tentu menjadi penambah semangat kami dalam mengabdi memberikan layanan pendidikan bagi santri-santri. Perlu diketahui, mayoritas ketenagaan di Nurul Mustaqim adalah alumni Nurul Huda,” sambutnya. Jadi, lanjut alumni MTs, MA dan STKIP Nurul Huda ini, sudah sepantasnyalah pihaknya bersyukur atas terselenggaranya acara PMII dari Nurul Huda ini di Nurul Mustaqim. Apalagi dengan mengenalkan dunia pesantren melalui tokoh-tokoh alumninya seperti Gus Dur dan Ki Hajar Dewantara.

“Hal seperti ini tentu relevan sekali untuk menyadarkan bahwa PMII itu jiwanya adalah pesantren. Jadi, adik-adik yang belum tahu pesantren, lewat PMII akhirnya dapat mengenal peradaban luhur pesantren. Saya sebenarnya iri dengan adik-adik ini. Sebab di masa saya kuliah, tidak ada perintah untuk saya masuk PMII dari Ustadz Dedy. Saya hanya disuruh ngurus pondok dan juga ngurus dapur, masak nasi untuk santri di asrama. Saya sempat bertanya-tanya, tapi saya sadar, itu tentu jatah masing-masing. Yang penting niat kita sebagai santri itu belajar sembari berjuang. Belajar sembari berbakti. In sya Allah berkah,” pungkas calon Doktor UIN Raden Fatah Palembang yang juga Staf Wakil Ketua II STKIP Nurul Huda ini. (Chabib)