Pendidikan sebagai Motor Transformasi Desa Sukaraja

 

Oleh: Mila Novita Sari

Artikel ini terinspirasi dari gagasan DMS. Harby, Laillatul Fitriyah, dan Puji Adi Pratiwi mengenai perkembangan Desa Sukaraja yang dipublikasikan di situs Sahabat Rakyat Komering. Penulis menyoroti dua fokus utama: perubahan kawasan pesisir Komering berbasis permukiman Jawa dan peran Universitas Nurul Huda (Unuha) sebagai penggerak peningkatan kualitas sumber daya manusia di OKU Timur. Dari sini, diangkat tema besar: pendidikan sebagai motor transformasi pembangunan di Desa Sukaraja. Desa yang dahulu dikenal sebagai desa tua kini menjelma menjadi desa maju, berkat peran pendidikan dalam mendorong perubahan sosial dan pembangunan.

Pendidikan merupakan sarana utama memajukan kehidupan masyarakat, sehingga tidak bisa dilepaskan dari keseharian. Keberhasilan masyarakat lahir dari banyak aspek, dengan pendidikan sebagai fondasi penting. Pendidikan berjalan melalui komponen yang saling terkait: pendidik, peserta didik, kurikulum atau program pendidikan, fasilitas, tujuan, dan manajemen. Secara nasional, pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan sekaligus membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat, serta mengasah potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, dan kreatif.

Seiring kemajuan dunia, Desa Sukaraja pun mengalami perubahan signifikan. Pada tahun 2015, desa ini dimekarkan menjadi Desa Sukaraja Tuha dan Desa Sukaraja. Inovasi yang muncul, ditambah kedatangan pendatang Jawa melalui program transmigrasi, mendorong pertumbuhan desa secara pesat. Transformasi ini tidak hanya ditopang faktor fisik, tetapi juga melalui peneguhan jati diri masyarakat, semangat kerja, dan budaya saling mendukung. Semangat ini sejalan dengan gagasan Kriya Muhammad Daud bin Syafei, di mana elit pribumi Komering berperan sebagai pengembang desa dengan basis pembangunan permukiman warga pendatang Jawa.

Pertumbuhan penduduk pendatang mendorong pembagian wilayah permukiman, yang menjadi salah satu alasan pemekaran Desa Sukaraja. Menurut Tosse dan Robinson (2022:2), transformasi merupakan bentuk perubahan yang lebih esensial, menyentuh bentuk, struktur, dan hakikat suatu kondisi. Transformasi adalah tahap tertinggi dari perubahan organisasi, berada di antara perubahan biasa dan evolusi. Pertumbuhan desa ini tidak hanya terlihat dari fasilitas umum seperti pasar, masjid, dan kantor desa, tetapi juga dari berkembangnya lembaga pendidikan yang menjadi penopang kemajuan.

Desa Sukaraja kini dikenal sebagai pusat pendidikan, menarik ribuan pendatang dari berbagai kabupaten, provinsi, bahkan pulau. Terdapat tiga institusi besar: Muhammadiyah, Nurul Huda, dan Pangudi Luhur, dengan Pesantren Nurul Huda memiliki kapasitas terbesar. Kehadiran lembaga ini membuat desa dikenal luas, tidak hanya di Sumatera Selatan, tetapi juga di luar Pulau Sumatera (Prayitno, 2019:243).

Sejak berdiri pada September 1980, PPNH Sukaraja menjadi alat konsolidasi budaya bagi masyarakat transmigrasi Jawa dan sarana mobilisasi komunitas petani. Transformasi pendidikan di Sukaraja dimulai dari PTAIS Nurul Huda, yang berkembang menjadi STIT Nurul Huda, lalu STKIP Nurul Huda, hingga akhirnya menjadi Unuha. Inovasi pendidikan di sini berperan memecahkan persoalan pendidikan melalui gagasan, metode, atau temuan baru, baik yang dikembangkan maupun ditemukan.

Perjalanan menuju Unuha adalah praktik nyata transformasi kepemimpinan Abah Sholeh yang dirintis dan dibangun oleh Abah Affandi melalui Perguruan Salafiyah Plus. Identitas kelembagaan ini membuka ruang lahirnya berbagai perkembangan, termasuk tumbuhnya organisasi kemahasiswaan seperti PMII dan HMI di OKU Timur. Lulusan Unuha telah menempati posisi strategis di berbagai organisasi, misalnya Sahabati Heni Iswanti dan Sahabati Septia Ulan di PB PMI, serta Cak Suyatmin di PB HMI. Unuha baik langsung maupun tak langsung juga berperan dalam pendirian perguruan tinggi lain di OKU Timur dan sekitarnya. Seperti Universitas Muhammadiyah OKU Timur, STIT NU OKU Timur, STIS Subulussalam Sriwangi, STIT Al Hikmah Way Kanan, dan IAIN Ashiddiqiyah OKI.

Untuk mendukung pengembangan akademik dan alumninya, PPNH mendirikan cabang kedua di Desa Kotabaru Selatan, Kecamatan Martapura pada 2017. Cabang ini menekankan pendidikan diniyah Salafiyah, pembelajaran Al-Qur’an, kearifan budaya Komering, dan kemampuan bahasa Inggris. PPNH Martapura juga membina Sekolah Dasar Al-Quraniyah (SDQ) dan SMP Al-Quraniyah (SMPQ). Transformasi pendidikan semacam ini bertujuan mengubah peserta didik dari kondisi awal menjadi lebih maju (lebih tahu, lebih mampu, lebih termotivasi, lebih terbiasa, dan lebih ikhlas) sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang berkembang, bermakna, dan bahagia di dunia maupun akhirat (Prayitno, 2019).

PPNH Sukaraja dan perguruan tingginya yang berdiri sejak 1995 berhasil membangun solidaritas kuat dan meningkatkan mobilitas masyarakat transmigran Jawa. Keberhasilan ini membuat elit Komering menjadikan komunitas PPNH sebagai mitra strategis dan taktis dalam pembangunan OKU Timur. Hal ini sejalan dengan Pratama & Khoirunnisa (2025:30) yang menegaskan pentingnya pendidikan sebagai fondasi pembangunan nasional.

Peneguhan jati diri masyarakat Sukaraja tercipta melalui kerja sama yang saling mendukung untuk membangun peradaban lebih maju dan bermartabat. Inovasi dan ide baru muncul dari dinamika peradaban (dalam suka maupun duka) dilakukan tanpa pamrih, dengan semangat bersama untuk mencapai kesepakatan. Semangat ini mencerminkan gagasan Kriya Muhammad Daud bin Syafei, di mana elit pribumi Komering menjadi pengembang Desa Sukaraja melalui pembangunan permukiman warga pendatang Jawa.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia (PBSI) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Nurul Huda (Unuha). Artikel ini merupakan Tugas Akhir Semester Mata Kuliah Pengantar Ilmu Pendidikan.