
Oleh : Dedy Mardiansyah & Mardiyah Hayati*
NPP yang bertotal halaman 149 lembar ini memiliki 12 bab yang masing-masing babnya coba mengetengahkan identitas Skala Brakh sebagai peradaban pembentuk Sriwijaya di Komering melalui judul-judulnya. Mulai dari identitas rajanya yaitu Dapunta Beliau Ratu Sekerumong menjadi judul bab 1.
Identitas Skala Brakh sebagai kerajaan pegunungan sebagai judul bab 2. Buay Umpu sebagai identitas bangsa pendatang (yang menyebabkan wangsa Tumi harus bermigrasi dari puncak gunung Seminung ke kawasan pesisir sungai Komering) menjadi judul bab 3.
Sasindai sebagai hantu penguasa sungai Komering (yang merupakan tantangan utama para paksi untuk membangun di kawasan peradaban barunya) menjadi judul bab 4. Sibalakuang sebagai penunggang harimau hutan larangan (yang menjadi leluhur Komering di Danau Ranau sekitar) adalah judul bab 5.
Jati Keramat sebagai juru selamat (bagi putri kahyangan yang disembunyikan Sasindai di dalam buah pinang dan kemudian diberi gelar Bunga Mayang) sebagai judul bab 6. Umpu Minak Adipati dan Peliung Sakti (sebagai pendiri Komering Pemuka Peliung) merupakan judul bab 7.
Jika divisualkan lewat drama, ketujuh judul di atas bisa jadi judul pementasan sendiri-sendiri. Sesuatu yang dapat lebih menarik terutama untuk memperkenalkan para muda milenial akan khazanah peradaban Komering.
Literasi ulayat Komering sebagai penerus peradaban Skala Brakh melalui pendekatan geografis model NPP yang ditulis oleh penulis keturunan Jawa, Minang dan Komering ini menjadi cukup potensial dikembangkan. Terutama dari sudut dokumentasi literasi sastra tematik Komering.
Meskipun menurut penulisnya sendiri, penulisan NPP masih banyak kekurangan, namun “keberanian untuk menjadi malu”, sebagaimana ungkap penulisnya, adalah point penting yang juga ikut mendorong NPP menjadi lebih kuat dan layak dijadikan model literasi sastra tematik Komering kekinian.
Karenanya, catatan dan ulasan ini pun, sesungguhnya, menjadi lebih banyak menguatkan NPP sebagai sebuah dokumentasi literasi kebahasaan, bukan sebagai dokumentasi kesejarahan. Yang kemudian dapat mendorong penulisnya merasa tepat jika mengulas NPP juga dengan gaya sastra bukan dengan gaya kesejarahan. Sehingga tujuan dari penulis membawa tema Komering dalam NPP menjadi lebih dapat diterima.
7 Phuyang yang ada di dalam NPP bagi penulisnya merupakan kredo awal untuk menuntaskan Komering sebagai simbol peradaban Sumatera Selatan. Mudah-mudahan pada waktu berikutnya akan banyak buku yang dikhususkan mengulas Komering sebagai tema sentralnya.
Dedy Mardiansyah adalah Alumni dan Dosen Unuha. Pendiri Pusat Kajian Komering Unuha ini pernah menjadi Sekum MUI OKUT, Wakil Ketua GP Ansor OKUT dan Ketua KNPI OKUT. Selain Ketua IKANUHA, ia kini juga Wakil Ketua Yayasan PPNH Sukaraja dan Wakil Katib PCNU OKU Timur. Mardiyah Hayati adalah juga Alumni dan Dosen Unuha. Selain sebagai Pembina Asrama Putri Al Umami PPNH Sukaraja dan Pengelola Jurnal Mahasiswa PBSI FIP Unuha juga Wakil Bendahara Yayasan PPNH Sukaraja.

