Komering Penerus Wangsa Tumi (Catatan Buku Negeri Para Phuyang Bagian III)

Cover Buku Negeri Para Phuyang Himawan Bastari

Oleh : Dedy Mardiansyah & Mardiyah Hayati

Dengan gaya berceritanya, NPP mengetengahkan bahwa misi pembangunan kawasan pemukiman baru di muara sungai Komering demi penyelamatan wangsa Tumi adalah yang membuat ketujuh paksi, para punggawa kerajaan Skala Brakh, itu memilih setia mengikuti alur sungai Komering dengan cara senantiasa di atas air (samanda di way).

Samanda di way inilah menjadi nama marga Samandaway yang merupakan identitas utama masyarakat Komering penerus peradaban Malayu Kuno rumpun Seminung sekaligus perintis peradaban Sriwijaya di kawasan Minanga.

Memang, para paksi dari Skala Brakh itu tidak semuanya berkumpul di Minanga, mereka ternyata harus tersebar mulai dari Danau Ranau atau Muara Dua hingga ke Gunung Batu yang merupakan batas awal kawasan peradaban Komering. Secara sukarela mereka menjadi leluhur Komering di daerah-daerah yang menurut mereka strategis bagi misi pembangunan Minanga sebagai kawasan pemukiman baru wangsa Tumi.

Mahangin, Kiti, Sandang dan Rawan (daerah Danau Ranau dan Muara Dua sekitar) merupakan ulayat Komering yang dibangun oleh Phuyang Sibalakuang. Selanjutnya Bunga Mayang adalah ulayat Komering yang dibangun oleh Phuyang Jati Keramat. Adapun Pemuka Peliung dan subnya, Bantan, adalah ulayat Komering yang dibangun oleh Phuyang Ratu Penghulu dan Phuyang Umpu Minak Adipati.

Sebelumnya, Phuyang Ratu Penghulu dengan menggunakan peliung milik Phuyang Minak Adipati pemberian Ratu Skrumong telah menaklukkan ikan naga raksasa peliharaan Sasindai, ratunya hantu hayau atau hantu air yang berkuasa di Sungai Komering.

Sementara Madang adalah ulayat Komering yang dibangun oleh Phuyang Umpu Sipadang. Di daerah inilah Sasindai berhasil ditaklukkan oleh para punggawa wangsa Tumi dari Skala Brakh ini atas bantuan seekor burung Kapodang (Enggang) raksasa utusan Ratu Skrumong. Selanjutnya Meluway (daerah Betung) adalah ulayat Komering yang dibangun oleh Phuyang Ratu Sabibul.

Sementara Minanga adalah ulayat Komering yang dibangun oleh Phuyang Minak Damang Bing sebagai yang tertua dari ketujuh paksi utusan Skala Brakh itu. Grup phuyang dari wangsa Tumi inilah yang membangun peradaban masyarakat kawasan sungai Komering dari hulunya di kawasan Danau Ranau hingga muaranya di kawasan Minanga.

Setelah ketujuh phaksi itu selesai menyiapkan wilayah pesisir sungai Komering dimana masing-masing mereka memilih membangunnya, maka bermigrasilah semua wangsa Tumi ke pesisir Komering berdasarkan perintah rajanya. Adapun Ratu Skrumong sendiri dan beberapa orang pengikutnya tetap tinggal di Bunuk Tenuar, ibukota kerajaan Skala Brakh.

Adapun phaksi yang bertugas memimpin migrasi habis-habisan wangsa Tumi ini adalah Kai Patih Kandi yang kemudian menjadi leluhur Komering di Gunung Batu. Proses migrasi wangsa Tumi Komering ke pesisir Komering ini sendiri disebutkan oleh NPP berlaku pada Abad 7 Masehi.

Dedy Mardiansyah adalah Alumni dan Dosen Unuha. Pendiri Pusat Kajian Komering Unuha ini pernah menjadi Sekum MUI OKUT, Wakil Ketua GP Ansor OKUT dan Ketua KNPI OKUT. Selain Ketua IKANUHA, ia kini juga Wakil Ketua Yayasan PPNH Sukaraja dan Wakil Katib PCNU OKU Timur. Mardiyah Hayati adalah juga Alumni dan Dosen Unuha. Selain sebagai Pembina Asrama Putri Al Umami PPNH Sukaraja dan Pengelola Jurnal Mahasiswa PBSI FIP Unuha juga Wakil Bendahara Yayasan PPNH Sukaraja.