Menjaga Kesehatan Mental Dengan Banyak Belajar & Orientasi Cinta

 

Oleh: Yandi**

Komering Sahabatrakyat.com – Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari kesehatan mental atau menjaga keseimbangan antara pikiran, perasaan dan perilaku harus benar-benar diperhatikan, sehingga tercipta suasana yang harmonis dalam lingkungan masyarakat sekeliling.

Jika salah satu diantara ketiga itu ada yang tidak berfungsi sebagai mana mestinya, maka tentu akan mempengaruhi yang lainnya. Sehingga menyebabkan kekacauan dalam masyarakat disekitar lingkungan beraktivitas.

Adapun masalah yang biasa mengganggu ketidak seimbangan berpikir, merasa, dan bertindak yaitu seperti suana hati, perilaku yang keliru, pemikiran yang salah, dan cara berinteraksi dengan sesama.

Untuk menjaga kombinasi antara ketiga hal tadi, maka perlu adanya kematangan mental bagi mereka yang mengalami gangguan seperti itu.

Adapun cara mencapai kematangan mental yang dimaksud dapat dicapai dengan cara diantaranya, banyak belajar dan menambah pengalaman, bersifat terbuka kepada orang yang dipercaya, sering bertanya jika ada sesuatu yang belum paham, dan meluruskan niat dalam menjalankan tugas atau sesuai dengan tujuan hidup manusia terhadap apa yang digariskan oleh sang pencipta. Dan itu sangat selaras dengan ungkapan dalam petuah agama Islam, yaitu manusia harus senantiasa mengejawantahkan nilai Islam Rahmatan Lilalamin.

Selain itu dalam usaha menjaga kesehatan mental juga dapat ditempuh dengan istirahat yang cukup, belajar mengontrol diri ketika berhadapan dengan suatu persoalan, aktif beraktivitas secara produktif, dan menjalin hubungan baik dengan orang yang positif.

Namun selain itu, kesehatan mental juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor gen atau keturunan, situasi keluarga, relasi dengan teman, keadaan fisiologis, cara hidup yang terlalu berlebihan, kesibukan bekerja, kondisi sosial yang kurang baik, keadaan ekonomi, dan lainnya.

Dan perlu ditekankan disini semua itu bisa diatasi dengan banyak belajar, seperti petuah bijak ” barang siapa yang menginginkan dunia maka harus tahu ilmunya dan barang siapa menginginkan akhirat juga harus tahu ilmunya”, memahami situasi, bersifat terbuka, dan mengetahui orientasi dalam dunia perjuangan.

Jika semua itu mampu ditangani dengan baik, maka produktivitas dalam bekerja juga akan terpenuhi serta bisa memberikan kontribusi yang berarti bagi komunitasnya. Selain itu seseorang dengan kesehatan mental seperti itu akan membantu mereka dalam mewujudkan potensi diri dan memiliki kekuatan dalam mengatasi tekanan-tekanan hidup.

Manusia dalam menjalankan kehidupannya tentu tidak akan pernah lepas dari yang namanya masalah. Siapapun manusia itu dan apapun profesinya. Baik anak-anak, remaja, atau dewasa.

Adapun masalah yang dihadapi bisa berupa masalah pribadi, seperti kekurangan jam terbang/ pengalaman, pengetahuan, dan tingkat kematangan emosional. Selain itu persoalan pekerjaan dan pergaulan juga bisa.

Dan terkadang seseorang sering kali keliru dalam mencari jalan keluar dari problematika yang dihadapinya.

Kekeliruan dalam menyelesaikan persoalan tersebut terjadi oleh karena ketidak tahuan mereka terhadap apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang membuat hal itu terjadi. Ketidak tahuan seperti itu sering membuat mereka salah dalam mencari jalan keluar dari masalah yang ia miliki.

Jika hal itu terjadi maka akan mendatangkan kerugian besar baik bagi dirinya maupun bagi komunitasnya.

Untuk itu sebagai manusia seseorang perlu menggali lebih banyak informasi terutama informasi tentang apa yang menjadi prioritas komunitas atau lembaga tempat ia bekerja dan mengabdikan diri.

Jangan sampai manusia sebagai insan yang berpikir dan memiliki hati nurani itu seolah-olah membeli kucing dalam karung.

Artinya kejelasan orientasi dan tujuan organisasi harus benar-benar ia pahami dengan baik. Dan mengetahui tanggungjawab serta batas diri dalam melaksanakan tugasnya.

Kesesuaian komando organisasi, akan menghadirkan frekuensi berpikir yang sama antar setiap anggota komunitas, sehingga dapat melahirkan tindakan yang juga sama. Jika hal itu terwujud, akan mampu menghadirkan suasana lingkungan masyarakat tempat bekerja menjadi harmonis dan penuh dengan produktivitas-produktivitas yang positif.

Maka dengan begitu memahami situasi dan kondisi terhadap apa yang sebenarnya terjadi pada diri, lingkungan masyarakat tempat seseorang itu berada memanglah sangat penting.

Untuk itu evaluasi diri juga dibutuhkan guna mengetahui persoalan apa yang sebenarnya sedang dihadapi.

Evaluasi diri yang dimaksud yakni bisa berupa mengevaluasi kebiasaan sehari-hari agar lebih produktif, mendalami potensi yang dimiliki, mengoreksi perilaku diri, dan menyeleksi teman yang dapat mempengaruhi produktivitas kehidupan manusia itu.

Kemudian memahami kondisi terkini juga sangat diperlukan, seperti dengan adanya perkembangan teknologi informasi atau internet.

Akibat kemajuan dunia internet seseorang akan dengan mudah untuk mengakses berbagai informasi. Yang lebih parahnya bukan hanya mengakses informasi yang mereka lakukan. Tetapi juga memberikan informasi, yang sebenarnya sering kali justru merugikan dirinya sendiri.

Dahulu banyak orang yang menuangkan gagasan, pikiran, unek-unek, keinginan atau cita-cita, kondisi yang dialami, profesi diri, dan lainnya, baik positif maupun negatif itu kedalam bentuk tulisan yang hanya mereka dan tuhan yang mengetahui, yaitu dalam sebuah buku yang disebut buku diary.

Namun sekarang telah ada yang namanya platform-platform yang bisa mereka gunakan sebagai alat untuk mencurahkan isi hati mereka. Untuk itu tidak heran jika banyak dari manusia sekarang menjadi tidak terkontrol dalam memanfaatkan jasa internet. Bahkan tidak jarang kebiasaan mereka dalam berselancar di dunia internet justru mendatangkan kerugian yang besar bagi dirinya sendiri, hingga berdampak kepada berubahnya perilaku dan kebiasaan mereka.

Oleh karena itu penyeleksian kebiasaan seperti itu juga perlu dilakukan. Agar bisa terhindar dari perilaku-perilaku negatif. Yang disebabkan oleh kesalahan penggunaan dalam memanfaatkan media sosial seperti Facebook, Twitter, WhatsApp, Instagram dan lainnya. Sebenarnya tidak apa-apa sih jika kamu mau posting sesuatu di medsos, asal memang itu ada manfaatnya baik bagi ekonomimu maupun orientasi perjuanganmu. Intinya kamu harus benar-benar menguasai akan fungsi dan manfaat media sosial yang kamu punya.

Selanjutnya penyeleksian teman pergaulan itu tidak jauh lebih penting. Sering kali seseorang tidak menyadari bahwa teman sekelilingnya juga bisa mempengaruhi prilaku dan cara berpikirnya.

Untuk itu harus mampu memilah dan memilih teman yang benar-benar mendukung dalam kemajuan hidup sehingga menjadi lebih baik dan lebih bijaksana dalam mengambil serta menjalankan peran.

Selaras dengan petuah bijak ” Barang siapa berteman dengan tukang ikan asin maka akan bau ikan asin, dan barang siapa berteman dengan tukang minyak wangi maka akan menjadi wangi.” Itu artinya perlu diutamakan mencari teman yang lebih baik daripada diri ini. Sehingga kualitas hidup juga akan meningkat.

Selain itu, pendalaman terhadap potensi diri bisa juga sebagai alternatif untuk merawat kesehatan mental seseorang. Sebab dengan ia menggali potensi diri yang dimiliki itu, akan muncul harapan-harapan baru untuk bisa digunakan sebagai modal mereka dalam menyongsong masa yang akan datang. Artinya kehidupan mereka akan lebih menjanjikan berkat keahlian yang diasah dan dimiliki tersebut.

Bahkan, dengan mereka menjalankan aktivitas yang dicintai, mereka akan melakukannya secara rileks dan senang hati. Sehingga tanpa adanya beban yang berarti bagi mereka dalam beraktivitas.

Ngomong-ngomong soal cinta, dalam menjalankan aktivitas keseharian tidak hanya berkenan dengan hobi atau potensi diri saja, konsep cinta juga sangat penting untuk diterapkan dalam hubungan hidup bersama, contohnya ditempat bekerja dan mengabdi.

Jika semua hal dalam setiap perilaku dan tindakan didasari dengan cinta, maka yakinlah akan banyak hadir hal-hal yang tak terduga dan membuat hidup menjadi lebih fresh, semangat, serta penuh dengan harapan-harapan baik, tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi lingkungan sekitar.

Karena cinta itu tidak kenal irih hati, dengki, marah, pesimis, atau pun sifat acuh tak acuh. Sehingga seberat apapun beban tugas jika dikerjakan secara bersama-sama dan dilandasi dengan rasa cinta, pasti akan menjadi lebih ringan. Dan artinya kesehatan mental juga akan semakin baik, sehingga rasa syukur kepada Tuhan yang maha esa pastinya semakin bertambah. Dengan kata lain kesehatan rohani kamu juga akan meningkat. Sudah sukses di dunia, akhirat juga kena imbas kesuksesannya.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Penulis adalah seorang abdi yang mengabdikan diri disebuah lembaga pendidikan milik Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja, Buay Madang, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan.