
Komering Sahabatrakyat.com- Karang Manik adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Belitang ll, yang berbatasan langsung dengan Desa Ulak Buntar BK 16 Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan. Desa itu juga akrab dengan sebutan Desa Pancasila. Hal itu karena ia memiliki 4 aliran kepercayaan beragama. Yaitu antara lain agama Islam, Agama Hindu, Agama Kristen, dan juga Agama Budha. Dan meskipun begitu beragam kebudayaan masyarakat disana tetapi tetap akur dan kompak dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat.
Untuk letaknya sendiri berada cukup jauh dari pusat Kabupaten/Kota. Maka tidak heran jika Karang Manik masih menyimpan banyak warisan budaya yang luar biasa dan yang terbaru adalah batik.
Batik Desa Karang Manik ini merupakan batik satu-satunya di OKU Timur.
Mahasiswa KKN Unuha (Universitas Nurul Huda ) OKU Timur angkatan XIX saat kunjugan ke produksi batiknya pada 27 Juli 2022 merasa cukup terkesan dengan adanya batik yang dibuat tersebut.
“Selain bisa melihat pengrajin batik di sini kami juga dapat belajar tentang proses membatik langsung dari para pengrajinnya,” tutur salah seorang mahasiswa Unuha yang bernama singkat Lia Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada saat memberikan keterangan ke pihak redaksi.
Menurutnya Bukan hanya mahasiswa, tapi semua orang diperbolehkan untuk belajar disini.
Iwan yang merupakan pengrajin batik batik Karang Manik menyampaikan bahwa memang benar batik yang Desa Karang Manik itu baru ia produksi pada tahun 2021 kemaren. Di mana pada saat itu belum ada sama sekali yang bisa membatik, terkhususnya di desa tempatnya tinggal.
Pemilik nama lengkap Iwan Santoso atau sering disapa Iwan ini menjadi orang pertama di Desa Karang Manik yang mengembangkan kerajinan membatik.
“Awalnya saya sendiri belajar di Jawa yang kebetulan waktu itu saya bekerja di sablonan. Setelah beberapa tahun bekerja sayapun pulang, karena diminta orang tua untuk mengembangkan batik di desa. Yang sangat jarang ditemui pengrajin batik disana, artinya pada waktu itu bisnis ini sangat menjanjikan untuk saya geluti, Hingga akhirnya kini batik dapat berkembang dan mulai banyak pemesanannya,” jelasnya.
Dari awalnya tidak ada warga yang bisa membatik sekarang sudah ada 12 pekerja dan 6 pekerja lainnya menjadi pekerja tetap di pembatikan milik Iwan. Bahkan nama tempat juga telah tersedia, yaitu pembatikan Anum Sejagad dan Sekar Tanjung Batik.
Mayoritas batik yang paling banyak dipesan yaitu batik tulis Sedangkan untuk batik cap persentasenya lebih sedikit pemesanannya. Namun untuk harga jelas batik tulis lebih sedikit mahal ketimbang batik cap. Semua tergantung tingkat kerumitan dan ukuran kain yang dipesan. Batik di sini bukan hanya untuk dijadikan pakaian saja tetapi juga batik untuk taplak meja syal dan juga hordeng. (Redaksi)

