Oleh: Dedy Febrianto**

Dewasa ini, sebagian kecil masyarakat sering memberikan stempel negatif terhadap suatu suku. Kelompok kecil ini memandang bahwa ada beberapa suku yang cenderung memiliki sikap-sikap negatif. Pandangan-pandangan seperti itu pada akhirnya akan melahirkan sikap diskriminatif terhadap salah satu suku dalam kehidupan bermasyarakat..
Padahal jika kita mau menggunakan akal sehat, setiap sikap, tindakan, dan karakter negatif itu bisa dimiliki oleh siapa pun. Tidak ada batasan suku tertentu. Dan perlu dicatat bersama bahwa kejahatan tidak menganut agama maupun suku manapun. Kejahatan merupakan musuh bersama yang berkiblat pada kebodohan semata.
Komering sebagai sebuah suku agaknya juga tidak luput dari pelabelan negatif dari sekelompok kecil masyarakat sebagaimana yang dibicarakan di muka. Padahal jika kita mau mengenal Komering lebih dekat, kita akan menemukan sebuah fakta bahwa Komering merupakan sebuah suku yang berdiri di atas nilai-nilai luhur. Komering bukanlah suku ‘bar-bar’ sebagaimana yang didengungkan oleh sebagian kecil orang.
Untuk membuktikan keluhuran Komering tersebut, kita bisa melihat dari berbagai sudut, bisa dari segi kultur budayanya, sikap hidup masyarakatnya, dan juga melalui sastra lokalnya. Di antara beragam sudut tersebut, tulisan ini akan sedikit memaparkan keluhuran Komering melalui sastra lokalnya.
Himawan Bastari dan Usman Nurdin merupakan dua putera Komering yang telah meluangkan waktunya untuk menulis kembali cerita rakyat Komering yang tercecer di tengah masyarakat. Melalui niatan mulia kedua putera Komering tersebut, lahirlah buku hikayat Komering Negeri Para Phuyang dan cerita takyat Seharuk.
Kedua cerita rakyat tersebut sesungguhnya bukan hanya sekedar cerita-cerita kosong tanpa makna. Di dalamnya banyak mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang selaras dengan yang dianut oleh bangsa Indonesia. Hal ini selaras dengan fungsi karya sastra di tengah masyarakat berbudaya.
Muatan nilai yang dimaksud juga dibuktikan dengan beberapa penelitian ilmiah yang telah dilakukan oleh Dedi Febriyanto bersama dengan rekan-rekannya. Febriyanto melakukan dua penelitian yang berkaitan dengan karya sastra Komering tersebut. Penelitian pertama berjudul “Kearifan Lokal dalam Hikayat Komering Pitu Phuyang”, sedangkan penelitian kedua berjudul “Unsur Budaya dan Nilai Moral dalam Cerita Rakyat Komering Seharuk”. Kedua penelitian tersebut terbit pada 2021 yang lalu dan terpublikasi di jurnal nasional bereputasi yang berada di bawah naungan Kemendikbud.
Melalui penelitian-penelitian tersebut, kita dapat dengan mudah membuat suatu simpulan tentang Komering. Orang yang cermat pasti akan menyatakan bahwa Komering merupakan sebuah suku yang adiluhung dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya bangsa. Hal tersebut dapat diamati melalui kebudayaan maupun sikap hidup tokoh cerita yang ditampilkan dalam karya sastra tersebut.
Berdasarkan ulasan tersebut, jelas dapat dikatakan bahwa stigma negatif yang disematkan kepada suku Komering adalah sebuah diskriminatif. Stigma tersebut hanya muncul dibenak orang-orang tak berpendidikan yang hanya menginginkan perpecahan bagi bangsa ini.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Penulis adalah mahasiswa pascasarjana Universitas Lampung yang sedang belajar mencintai Komering.

