Oleh Dedy Mardiansyah*
komering.sahabatarakyat.com- Telah 5 tahun lalu saya dan istri berikrar di depan orang tua sekaligus guru kami untuk berumah tangga dan menjadi bapak dan ibu pembina sebuah unit asrama. Asrama dengan situasi yang komplek dan membutuhkan banyak energi dan fokus perhatian. Saya yang, karena pilihan menikah, harus meninggalkan dunia kerja (meski belum masuk kategori profesional) dan tentu juga keluarga besar berikut handai taulan saya di Bengkulu benar-benar kembali ke titik nol dalam arti hampir segalanya. Tanpa kerja, tentunya tanpa penghasilan, tanpa modal ijazah sarjana dan juga modal jaringan. Dalam hitungan matematis, menurut beberapa teman saya, juga tanpa pertimbangan masa depan. Tapi, entah kenapa, dalam hati saya, tiada gentar dan tiada pula banyak pertimbangan apalagi target-target pencapaian kecil atau besar. Saya cuma mengikuti nurani bahwa inilah saatnya. Inilah sesuatu yang sebelumnya telah lama mengusik alam bathin saya. Sesuatu yang sebelumnya begitu menjadi misteri bagi saya sampai-sampai saya merasa bak sebuah beban besar di kepala dan benak saya yang minta dipecahkan tetapi tak mampu secuilpun saya dapat terjemahkan.
Hingga pada saat saya tengah menunggu berita di parkiran perwira Mapolres Bengkulu, salah satu pos yang tiap hari harus saya pantau untuk saya laporkan sebagai seorang wartawan SKH Bengkulu Ekspress, datanglah sebuah SMS. Heh.. Betapa, jawaban Rahasia Besar dalam salah satu fase hidup saya sebagai makhluq itu hanyalah berupa SMS! SMS dari teman sekelas saya pas 1 Aliyah yang bertema pertemanan ; “aq ingin pean temani abah dalam berjuang”. Cuma itu, tok!
Bagi sebagian besar kita mungkin isi layanan pesan singkat elektronik itu hal yang biasa. Tapi bagi saya, terutama, itu benar-benar luar biasa. Kalau pertemanannya saja, memang biasa. Tapi kalau yang dikaitkan dengan kata kerja “temani” itu adalah abah dalam konteks sang pengirim pesan dan dalam konteks saya apalagi ditambah kata-kata “berjuang”, itu betul-betul di luar kiraan saya.
Dalam konteks pengirim pesan, sang pengirim memang teman sekelas yang pernah saya suka dan, parahnya, kesukaan saya itu memang bertepuk sebelah tangan baik karena memang di sekolah kami dilarang pacaran, terus karena saya sangat dibencinya berkat kadar tinggi keusilan dan kejahilan saya menurutnya, serta karena dia adalah anak guru sepuh, salah satu perintis lembaga pendidikan kami. Dengan SMS itu, sang pengirim telah dengan tegas meminta saya : menikahinya, menemani bapaknya yang sekaligus guru kami berdua dan, yang menjadi inti pesan, mengukuhkan perjuangan.
Sementara kata-kata abah dalam konteks saya memang keramat. Kata yang bagi saya memiliki keluhuran makna masa lalu, masa kini dan masa depan. Dalam masa lalu saya, telah hidup sosok figur perekat keluarga sekaligus pelayan umat yang justru karena ketegasannya (bahkan terkesan cenderung keras) membuat beliau senantiasa dirindu meski beliau telah lama tiada. Haji Ramli atau Ustadz Ramli (terkadang ada juga yang sampai menyebutnya Buya Ramli). Sosok yang selama hidupnya pernah meramaikan Masjid Jamik dan Kota Curup, Bengkulu dengan Sholawat Badriyah, Majelis Taklim dan Kursus Kader Dakwah Islamiyah (KKDI). Sosok yang oleh anak-anaknya dipanggil dengan sebutan Abah, termasuk putra kelimanya, ayah saya.
Meski tidak secara formal, belakangan dalam investigasi diam-diam saya terhadap literatur akademik, terlepas besar atau kecil lingkupnya, beliau, bagi saya, entah sempat diniatkan atau belum oleh beliau sendiri, telah pernah mencoba menghidupkan sistem pendidikan, yang sekarang dikenal dengan pesantren, di lingkungannya. Ada tokoh atau kekuatan sentral (beliau sendiri dan guru-guru yang dilibatkannya untuk memberikan materi), ada murid (yang berasal dari tempat dimana tokoh sentralnya pernah berdakwah atau telah mengetahui kiprah dakwahnya), ada materi yang diajarkan (bisa kitab atau, dalam konteks ini, materi tertentu), ada surau atau langgar tempat utama proses pembelajaran (dalam hal ini Masjid Jamik Kota Curup) serta ada tempat tinggal khusus murid (meski tidak resmi tapi konteks ini Masjid Jamik dan rumah Ustadz Ramli sendiri telah menjadi pemondokan para murid).
Meski saya belum sempat bercengkerama lebih jauh dengan sosok Abah satu ini, karena beliau tutup usia pas saya menjelang libur kenaikan kelas II MTs Ponpes Arrahmah Curup, namun karakter tegas seorang pendidik model beliau telah sempat saya kecap. Selain materi-materi pelajaran yang diberikan di tempat saya, beserta saudara-saudara saya yang lain yang juga cucu-cucu beliau, mengaji sore hari di Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyah Islamiyah Pasar Baru Curup (paginya saya bersekolah di SDN No. 5 Curup).
Pernah pula saya ditampar keras, benar-benar tamparan yang sangat keras (yang karena saking kerasnya sampai membuat saya tertidur setelahnya), gara-gara perhatian saya dari beliau yang tengah mengajarkan lagu-lagu penyemangat dan bernuansa agama di dalam kelas beralih ke ayah saya (yang kala itu menjadi kepala madrasahnya) yang tengah berada di luar sekolah. Meski demikian, kenyataan, yang saya sadari belakangan, bahwa saya adalah termasuk di antara paling sedikit cucu-cucunya yang sempat dikunjungi tempat belajarnya meskipun cukup jauh (setidaknya butuh alokasi waktu khusus), saya anggap sebagai sebuah kesadaran awal.
Sementara untuk masa kini sewaktu saya menerima SMS itu ada beberapa sosok Abah yang menjadi inspirasi saya. Baik yang memang langsung dipanggil Abah maupun tidak. Abah dalam konteks masa kini saya waktu itu adalah umumnya sosok tokoh pendidikan agama model pesantren Jawa yang jika di Sumatera bisa disebut Buya atau Inyiak. Memang, mulanya saya hanya mengenal sosok tokoh pendidik atau pendidikan agama Islam yang disebut ustadz. Belakangan, sejak saya sekolah di Pesantren Arrahmah, Air Meles, Curup, selain ustadz, saya lebih mulai mengenal figur kyai yang waktu itu personifikasinya adalah kyai Pengasuh Pesantren Darunnajah, Jakarta, induk Pesantren Arrahmah.
Selepas Pesantren Arrahmah, melalui bimbingan Pak Maliki, guru tauhid saya yang lulusan Pesantren Subulussalam, Sriwangi, OKU Timur, saya pun masuk ke Pesantren Nurul Huda. Pesantren yang termasuk dibangun berdasarkan jaringan alumni Pesantren Sriwangi itu. Baik adik kelas atau kakak kelas Pak Maliki. Di Nurul Hudalah saya kemudian mengenal lebih jauh sosok perjuangan ulama model kyai yang dipanggil dengan sebutan Abah. Beda dengan person Abah masa lalu saya, jika Abah yang hidup di masa lalu saya hanyalah panggilan terhadap bapak oleh anak biologisnya, sementara Abah di masa kini saya ini adalah juga panggilan bapak sekaligus guru oleh anak-anak ideologisnya (murid-murid). Kenapa, karena memang dalam dunia pesantren khas Jawa, sosok yang selain menjadi guru juga menjadi orang tua itu di pemondokan itu dipanggil Abah.
Saya pun kemudian mengenal sosok Abah Sholeh (Alm Drs. KH. Sholeh Hasan), Abah Qodir, Abah Yunus, Abah Baidhowi dan beberapa yang lain yang memang secara langsung mengajar kami baik di pengajian ekstra, diniyah maupun pelajaran sekolah. (Bersambung)
Artikel ini pernah diterbitkan oleh akun Facebook Dedy Mardiansyah pada 15 Agustus 2012.
Penulis adalah Ketua Ikatan Alumni Pondok Pesantren Nurul Huda ( IKANUHA). Yang saat ini diamanahi tanggung jawab sebagai Ketua Bidang Pendidikan YPPNH Sukaraja.

