PASAI & PANTAI TIMUR SUMATERA

 

Oleh : Dedy Mardiansyah*

Buku “Pasai Kota Pelabuhan Jalan Sutera: Kumpulan Makalah Diskusi” terbitan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, Jakarta, 1993 halaman 54 ini menyatakan catatan dinasti Yuan, China, yang menyebutkan keberadaan tiga orang utusan dari negara-negara di Asia Tenggara; Campa, Palembang, dan Pah-Sih (Pasai). Data pustaka di atas semakin mendorong langkah “Komering Studies” untuk semakin mengetengahkan Kawasan Minanga yang terletak di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur sebagai salah satu situs penting sejarah nasional yang amat relevan tentang relasi Sriwijaya dan pribumisasi Islam di Nusantara.

Hal di atas mengingat dua hal yaitu dasar pendekatan morfologi dan geografi dengan Palembang sebagai kata kunci. Menggunakan alat pendekatan berupa biduk “Periodisasi Sejarah Sriwijaya” milik mantan Pembantu Rektor Universitas Tridinanti Palembang (UTP) pada masanya, H. Arlan Ismail, SH. Bahwa Minanga Komering menurut Arlan merupakan satu dari tiga ibukota Sriwijaya berdasarkan periode tumbuh dan berkembangnya selain Palembang dan Jambi. Sebagai ibukota Sriwijaya Pemula, terdapat kata atau nama tempat yang identik dengan Campa dan Pasai di Kawasan Minanga Komering yaitu Cempaka dan Negeri Pasai.

Cempaka sekarang adalah nama kecamatan tetangga dari Kecamatan Semendawai Barat, induk wilayah administratif Desa Minanga Tongah dan Minanga Besar berada. Sementara Negeri Pasai adalah nama sebuah dusun paling ulu dari Desa Campang Tiga Ulu di Kecamatan Cempaka dan bersebelahan langsung dengan Desa Gunung Jati. Uniknya, dusun Negeri Pasai ini sekarang hanyalah sebuah kawasan lokasi pemakaman yang terletak di depan kompleks Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTs) Campang Tiga yang di dalamnya terdapat makam seorang tokoh bernama Junjungan Sayyid Hamim ‘Ukasyah Sultan Negeri Pasai. Janggal tentunya jika sosok ini dengan Sultan Negeri Pasai pada namanya bermakna pemimpin sebuah komplek pemakaman. Apalagi daerah ini terkait dengan sejarah Sriwijaya.

Berdasarkan dokumen sejarah yang disusun oleh Yayasan Lombahan Balak Desa Tanjung Kukuh Kecamatan Semendawai Barat Kabupaten OKU Timur, tokoh Junjungan Sayyid Hamim ‘Ukasyah ini hidup sezaman dengan tokoh-tokoh Wali Sanga di Tanah Jawa. Beliau adalah penyebar ajaran Islam dari Tanah Jawa. Sesuatu yang tentu menguatkan relevansi Desa Gunung Jati yang persis di sebelah dusun Negeri Pasai dengan sosok Sunan Gunung Jati yang bernama Syarif Hidayatullah, pendiri Kesultanan Cirebon dan Pasundan Darussalam.

Sosok ini berdasarkan dokumen yang didapatkan dari masyarakat sekitar memiliki hubungan erat dengan tokoh Sayyid Hamimul Hamim gelar Tuan di Pulau yang bermakam di Desa Negeri Sakti tetangga Desa Kuripan yang keduanya berada satu pulau yang membelah Sungai Komering di seberang Desa Campang Tiga dan Desa Gunung Jati. Bahkan, tokoh Sayyid Hamim gelar Tuan di Pulau ini dinyatakan oleh Muhammad Azhari dalam dokumen yang disalin dan diberikannya kepada Khairul Ahmad, penulis Buku “Sejarah Palembang Ulu” sebagai putera dari Syarif Hidayatullah gelar Sunan Gunung Jati. Tuan di Pulau, dalam riwayat ini adalah saudara dari Puteri Kembang Dadar yang bermakam di Bukit Siguntang, Palembang.

Menariknya lagi, selain terkait Sriwijaya dan gerak dakwah Islam di Nusantara, relevansi sejarah Negeri Pasai di Kawasan Minanga Komering ini juga terkait dengan penggunaan Surat Ulu atau Huruf Unggak atau Aksara Kaganga baik di Kawasan Minanga Komering, secara khusus, dan Kawasan Sumatera Bagian Selatan termasuk Banten dan Jawa Barat, secara umum. Sesuatu yang semakin menguatkan peran yang lebih bermakna dari Negeri Pasai ini bagi Sejarah Nasional Indonesia. Apalagi dengan riwayat Pasai sebagai kota masyarakat dan pemerintahan Islam pertama di Nusantara terutama relevansi kemunculannya pada Sriwijaya baik secara kedekatan tempat maupun saat sejarahnya.

Sebagaimana ditegaskan Arlan Ismail, pendekatan sejarah Sriwijaya utamanya studi Kawasan Minanga Komering hendaklah menggunakan data dan fakta pendukung yang paling relevan. Arlan juga menekankan amat pentingnya menggunakan Peta Wilayah Pantai Timur Sumatera berbasis data yang disepakati oleh ijma para ahli sejarah nasional utamanya Sriwijaya. Dimana dengan jelas peta itu menggambarkan lokasi Minanga yang amat strategis sebagai bandar utama Kedaton Sriwijaya periode pemula yang terletak di salah satu titik di kawasan pantai timur Pulau Sumatera dan dekat sekali dengan muara Sungai Komering sebagaimana yang digambarkan oleh I-Tsing. Tempat dimana Kedaton Sriwijaya, perdagangan emas (svarna) Sumatera juga penataan masyarakat dan kesultanan Islam di Nusantara dimulai.

* Penulis adalah pelayan di Asrama Sunan Kalijaga Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja OKU Timur dan Mahasiswa Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang.

~~~~~~~~~~
Artikel diunggah pertama kali di akun Facebook Dedy Mardiansyah pada 22 April 2017