Jalan Moral Kurva Normal dan Pemimpin

Oleh: Jousairi Hasbullah

Hampir setiap kita akrab atau setidaknya pernah melihat kurva Normal. Gambar bak gunung simetris, mirip kurva lonceng (bell curve). Disebut pula sebagai gambar dengan sebaran Gauss (Karl F Gauss,Gaussian Distribution).

Kurva Normal bukanlah sekadar kurva. Wujudnya menggambarkan tantangan tentang makna kehidupan. Ketika nilai kehidupan kita sedang berada di puncak tertinggi kurva itu, bukan berarti kita sedang di ketinggian. Iya kan? Tertinggi bukan berarti tinggi. Berada di puncak itu merefleksikan bahwa anda sedang berada di tengah-tengah ( median) bersama perkauman besar (modus) dari nilai kehidupan itu sendiri.

Ketika berada di puncak kurva normal, walau nilaimu hanya di tengah-tengah, mengisyaratkan anda sedang berada di posisi yg paling strategis, paling berkesempatan memandang lembah kiri dan kanan dari sayap kurva. Posisi itu memberi indikasi kuat bahwa kita sesungguhnya tengah berada di “ketinggian” versi republik kurva normal. “Ketinggian” jiwa untuk bermurah hati (altruist) dan untuk menemukan makna-makna ( meaning) . “Ketinggian” budi untuk menerangi dengan lentera jiwa yang tak pernah padam. Kita pun berkesempatan meresapi kerendahan, memaknai sisi kanan kurva yg nilainya memang di atas, tapi sesungguhnya mereka sedang menuruni lembah penuh semak-belukar.

Mereka yg berada di “di atas nilai rata-rata” (baca: hirarkis) dalam hukumnya kurva normal, sesungguhnya turun ke lembah kanan. Lembah yang jumlah penghuninya sedikit, penuh penderitaan, penuh tanggung jawab dan penuh tuntutan. Mengorbankan lebih banyak waktu, tenaga, pikiran dan kadang menjadi lebih “sumpek” karena hilang kesempatan meluangkan waktu membaca dan menulis. Kesempatan belajar sangat terbatas. Jalan hidup saya pernah mengalami stagnasi ini. Itulah sesungguhnya “penderitaan” seorang pemimpin.

Jika kita, dimana pun dan di profesi apa pun sedang di posisi ideal tengah-tengah, rawatlah itu..Itulah ketinggian hakiki, ketinggian yang berkesempatan dan ketinggian yang berpotensi ” mengayakan” Itulah saat terbaik kita menjadi manusia yang lebih utuh, lebih berilmu, lebih empatik, lebih eling lan waspodo, lebih berandap ashor dalam kehidupan yang singkat ini..Tatkala berada di tengah dan jiwa kita “mendekati full” maka, bila suatu saat takdir melungsurkanmu jatuh ke lembah kanan kurva normal, setidaknya kita telah lebih tangguh sebagai pemimpin. Pemimpin level apapun:Rumah tangga, RT, RW, Kantor atau apapun.

Saya kutip sekelumit kalimat Viktor Frankl, ” nilai hidup dan kebahagiaan tertinggi tak diperoleh melalui pemenuhan ego kekuasaan, melainkan hasil pencapaian kehendak menemukan makna. Makna itu akan terengkuh melalui pertautan dirimu dg komunitas yang banyak”. Yang di tengah-tengah. Dalam diksi yg berbeda dengan makna yang sama, kalimatnya kira-kira begini: ketika kita berada di Xbar yang bersepekarangan dengan median dan sepedapuran dengan modus di kurva normal..Itulah saat “kaya” kita.

Selamat berakhir pekan kawan. Semoga Allah merahmati kita semua. Tetap semangat.
Bandung 27 November 2021
JSH.

* Penulis adalah senior stastisi dan demografer kelahiran Bandar Lampung asal Komering Surabaya.

Sumber : akun Facebook Jousairi Hasbullah